Sabtu, 25 Mei 2013

POHON MASA DEPAN




Ini tentang diriku sendiri..

Aku menulis ini dengan perasaan yang sulit sekali kujelaskan. Mungkin karena terlampau gelisah, sedih, bingung, atau bahkan marah. Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Tapi yang jelas, tulisan ini merupakan keseluruhan rekonstruksi perasaan yang aku alami saat ini. Yaa.. saat ini.

Ini adalah cerita tentang sebuah pohon masa depan. Pohon yang 12 tahun lalu pernah aku tanam di halaman sekolah dengan penuh suka cita. Pohon yang diharapkan akan membawaku pada keindahan dunia. Tentu saja!

12 tahun lalu.. ketika usiaku 6 tahun.

Aku mempunyai niat untuk menanam sebuah pohon yang benihnya telah orangtuaku siapkan untuk kemudian harus aku tanam di sebuah tempat yang berjarak beberapa kilometer dari tempatku tinggal. Jadi, aku harus menggunakan angkutan umum setiap kali ingin menyiram dan merawatnya. Di sana, aku menemukan penanam-penanam hebat dengan berjuta impian di kepalanya, tentu saja! Bibit yang mereka punya adalah bibit nomor satu, serta didukung dengan pupuk berkualitas bagus dan yang pasti harganya pun mahal. Tapi aku tidak berkecil hati, aku tetap menanam pohon masa depanku sebaik mungkin. Tentunya dengan mengikuti petunjuk buku dan aturan kurikulum yang sudah ditetapkan.

Seperti penanam pohon pada umumnya. Aku telah menyiapkan doa, gembur tanah serta aliran air  sebagai bekal pertumbuhan pohonku nanti. Setiap hari aku sirami dengan serangkaian hafalan dan hitung-hitungan aljabar yang sebenarnya telah membuat kepalaku pusing.

Setiap hari aku selalu berusaha menjadi seorang penanam dan penumbuh yang baik. Aku selalu bangun pagi dan kemudian pergi ke sekolah untuk merawat dan membesarkan pohon masa depanku. Demikianlah, aku membaca bermacam-macam buku dan literatur, bahkan ditambah dengan beberapa artikel di internet. Aku mulai bisa membedakan majas, aku juga mulai bisa menghafal rumus-rumus baru pada pelajaran fisika. Lalu aku saksikan ilmu pengetahuan mulai bercabang dalam pikiranku.

Setiap hari, di sekolah, aku selalu menjadi seorang pemimpi yang mengharapkan pohonnya akan tumbuh bercabang. Agar suatu saat nanti aku bisa bersandar di keteduhan dan kekukuhan cabang-cabangnya. Atau bahkan, aku bisa memanen hasil buahnya untuk aku jual ke pasar atau sekedar aku bagikan kepada keluarga dan orang-orang disekelilingku.

Bertahun-tahun aku tanam pohon itu dalam hati dan pikiranku. Di kelas yang gaduh dan sunyi, di kelas yang kotor dan bersih. Kini pohonku telah melewati banyak fase pertumbuhan. Daun-daun mulai tumbuh menghiasi tangkai-tangkainya yang semakin kokoh. Lalu, kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya. Sementara itu, burung-burung telah sibuk bahu-membahu membuat rumah sederhana di keteduhan rantingnya. Proses ini terus berlanjut sampai aku meneruskan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama, bahkan sampai menuju bangku Sekolah Teknik Mesin.

Pada fase ini, aku mulai kelelahan membesarkan pohon masa depanku. Kini visi misiku mulai tertiup angin entah kemana. Setiap pagi aku pergi ke sekolah hanya untuk bertemu dengan teman-teman, menunggu jam istirahat, kemudian pulang. Kini aku telah menjadi seorang penanam yang tak memiliki semangat sama sekali. Aku telah menjadi lelaki malas yang menanam pohon hanya bergantung pada cuaca.

Detik-detik mulai berguguran, daun-daun mulai mengering dan berjatuhan. Kini pohon masa depanku telah genap berusia 12 tahun. Pohon yang seharusnya sudah bisa aku panen untuk diambil buahnya. Tapi mengapa pohonku masih belum berbuah juga? Lambat laun tangkai-tangkainya mulai rapuh dan jatuh ditelan gaya gravitasi bumi. Ada apa ini? Mengapa semua ini bisa terjadi?

Sementara itu, dunia industi mulai membuka lapangan pekerjaan. Membutuhkan orang-orang kompeten dan memiliki mimpi besar. Sementara aku.. Dimana mimpiku? Kemana perginya pohon masa depanku?

Aku telah kehilangan mimpiku. Aku telah kehilangan pohon masa depan, pohon kemerdekaan. Kini, dari kepalaku berhamburan impian-impian seperti kembang api malam pergantian tahun yang  terbang tinggi, dan kemudian pecah di udara terbuka. Aku telah kehilangan semuanya. Aku telah kehilangan semua mimpi-mimpi yang telah aku tanam sejak 12 tahun lalu di halaman sekolah.

Dan sekarang, aku harus menanam pohon baru.. Yaa.. pohon baru. Tapi orangtuaku bilang, aku tidak boleh menanam pohon itu di luar kota. Aku hanya boleh menanamnya di kota tempatku tinggal saja. Itu pun, aku hanya boleh menyiram dan merawatnya pada malam hari saja. Sebab di siang hari aku harus bekerja untuk mencari uang. Mungkin maksud mereka baik, dan aku menyetujuinya.

Semoga pohon masa depanku kali ini benar-benar bisa membahagiakan aku dan orang-orang di sekelilingku.

Yaa.. Semoga


*) Terinspirasi oleh karangan Yusuf Gigan - Risalah Cinta dan Pohon Masa Depan DI Halaman Sekolah