Sabtu, 09 Juni 2012

KRITIS


Menjadi seorang pelajar haruslah kritis. (Bapak Sihabudin Arif)

Kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut.

Pak Sihab adalah salah satu guru produktif di sekolahku, ia selalu memberikan wejangan-wejangan bermanfaaat untuk memotivasi murid-muridnya agar menjadi pelajar yang kritis. Kritis bukan berarti harus selalu mengkritik pejabat pemerintahan dan lain sebagainya. Sikap kritis dapat dibangun mulai dari lingkungan sekolah dan tempat tinggal.

Sayangnya aku terlahir sebagai pemuda pendiam, namun aku yakin bahwa kritis bukan hanya tertuang lewat petuah-petuah yang membuat hati tersayat perih. Aku mengapresiasi sikap kritis lewat racauan-racauan yang aku tulis pada blog pribadiku yang menurut bebagian orang dibilang 'ngga penting' karena alasan klise dan juga ngga terlalu keren buat mereka.

Namun, aku selalu berusaha untuk bersikap kritis bagaikan Plato. Aku selalu berusaha untuk terbebas dari labirin pemikiran dangkalku. Berfikir secara mengakar seperti andromeda. Mentla'ah otak kanan melalui rumus Vektor. Kritis boleh, asalkan jangan rasis.

Racauan ini memang tidaklah penting, maka dari itu abaikan saja!!

DONGENG



Dongeng adalah cerita khayalan atau cerita yang tidak benar-benar terjadi.

Dulu sewaktu aku kecil, seringkali aku mendengarkan dongeng tentang 'Si Kancil', cerita itu dapat membuatku terlelap dengan pulas. Namun seiring pertumbuhanku, aku tak lagi membaca dongang tentang binatang. Aku lebih sering membaca tentang dongeng kehidupan, atau lebih tepatnya sebuah buku atau novel.

Aku pernah mendengar atau lebih tepatnya membaca sebuah dongeng/legenda suci yang di tulis oleh penulis favoritku (Fahd Djibran), Dongeng itu menceritakan tentang rasa kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Aku membacanya dengan sangat lirih dan penuh penghayatan. Kebetulan aku membacanya di tengah malam yang sunyi. Baiklah, dari pada kau penasaran, lebih baik aku ceritakan saja :)


Baiklah, sebelum kau memulai semuanya. aku sarankan kau terlebih dahulu membenarkan posisi dudukmu. Buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku akan menceritakan hal yang sangat penting dan cukup panjang. Setidaknya kau mesti duduk dengan punggung yang tegak karena aku akan menyampaikan kepadamu sebuah cerita sedih....

Kisah ini terjadi di sebuah tempat bernama Kepingan Senja Alam Rahim. Di sana, sebelum kisah ini terjadi, para bayi tidak menghormati Ibunya. Mereka bahkan memarahinya bahkan membentaknya dengan penuh kebencian. Dengan alasan yang sungguh-sungguh tak bisa dimengerti.

Di Kepingan Senja Alam Rahim ada sbuah tradisi kuno, semacam kebiasaan untuk membuang orang-orang lanjut usia ke tengah Hutan Belantara Alam Rahim yang dipenuhi binatang-binatang buas. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dan dianggap hanya merepotkan saja, dibawa ke tengah hutan yang lebat untuk dibuang dan ditinggalkan di sana, sampai nasib melenyapkannya....

Alkisah, ada seorang anak yang membawa Ibunya yang sudah tua dan tidak berdaya untuk dibuang ke tengah hutan. Ibu ini sudah tua dan tidak berdaya. Bagi anaknya, keberadaannya hanya merepotkan dan membuatnya malu.

Si Anak menggendong Ibunya ke tengah hutan dengan penuh kebencian. Hutan yang lebat dan berbahaya. "Kau perempuan tua yang tak berguna," bisik anak itu dalam hati, "Hanya merepotkan dan membuatku malu saja!" Sepanjang perjalanan, si Ibu hanya terdiam sambil terus-menerus mematahkan ranting-ranting kecil di sepanjang jalan.

Sesampainya di tengah hutan rimba yang lebat dan berbahaya, si anak tersenyum penuh kemenangan. Seseorang yang selama ini merepotkan dan membuatnya malu segera akan hilang dan terbuang, pikirnya.

"Kita sudah sampai, Bu." katanya dingin. "Aku akan meninggalkanmu di sini."

Si Ibu mengangguk lemah.

Diam-diam ada perasaan sedih menyelinap di hati si anak ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Entah mengapa ia menjadi setega ini terhadap Ibunya sendiri.

Si Ibu mengangguk pelan, lalu dengan tatapan penuh kasih ia berkata, "Nak, Ibu sangat mencintai dan mengasihimu. Kaulah kecintaanku, yang akan kusayangi sampai aku mati. Sejak kau kecil. Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus, sejauh yang Ibu bisa. Hingga detik ini, Ibu selalu menyayangi dan mencintaimu. Dan untuk semua itu, Ibu tak akan meminta balasan apa pun, sedikit pun darimu. Kaulah kecintaanku, dan aku memberikan semuanya secara tulus."

Si anak berusaha menahan dirinya, ia berusaha membuang sedikit pun perasaan yang membuatnya iba. Ia memalingkan wajahnya.

"Pergilah, Nak." kata si Ibu dengan suara yang berat dan hampir terisak, "Ibu tak ingin kau tersesat saat kau pulang nanti dan mendapat celaka di jalan. Hutan adalah tempat berbahaya yang selalu menakutkan, banyak hal yang mungkin terjadi di sini, binatang buas atau racun tumbuhan berbahaya. Maka, sepanjang perjalanan tadi, Ibu mematahkan ranting-ranting ini," si Ibu memperlihatkan ranting-ranting di genggamannya, si anak menatapnya dengan diselungkupi rasa heran, "Aku melakukannya agar setiap pohon yang kupatahkan rantingnya bisa kau jadikan petunjuk yang akan membawamu pulang dengan selamat."

Setelah mendengarkan kata-kata terakhir Ibunya, si anak menatap wajah Ibunya yang tua dan keriput, ada sesuatu yang hadir di antara dirinya dan Ibunya, hingga ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Hatinya seolah hancur, mengapa ia begitu tega membuang dan melukai Ibu yang begitu mencintainya? Lututnya ambruk ke tanah, dan ia bersujud sambil menangis meraung-raung di kaki Ibunya. Sejak saat itu, ia bersumpah untuk merawat Ibunya sampai mati. Dengan segala yang terbaik yang ia miliki.

Jadi, inilah kisah itu. Ibu adalah seseorang yang harus kau cintai sampai kapanpun. Sebab dialah sosok wanita yang mengandungmu, melahirkanmu, merawatmu, dan selalu menyayangimu dengan tulus dan penuh kasih. Tundukanlah wajahmu di hadapannya, bungkukkanlah badanmu, raihlah punggung tangannya, ciumlah dalam-dalam sampai cintanya terasa di hatimu..