RACAUAN TUAN VIRGO
Rabu, 30 Maret 2016
Jumat, 05 September 2014
Imaji Cinta
Jika cinta bukan terbuat dari perasaan, imajinasi, dan serangkaian harapan yang berkoalisi menjadi suatu kesatuan. Lalu apa?
Terlalu banyak cara untuk medefinisikan cinta. Maka, terlalu banyak cara pula untuk menikmatinya.
***
Aku menjemputnya tepat jam empat sore!
"Kita mau pergi ke mana?" Kata Nisa.
Aku tersenyum.
"Nanti kau akan tahu." Jawabku, sambil menghidupkan mesin motorku.
Waktu itu, langit kota sangat cerah. Burung-burung menari di atas dahan pohon dalam balutan suasana keceriaan. Daun-daun kering yang berguguran menjadi pemandu sepanjang perjalanan kami berdua.
Tak lama berselang, kami tiba di sebuah parkiran Mall sudut kota.
"Ternyata kau ingin mengajakku ke Mall? Kau ingin membeli sesuatu?" Nisa mencoba cari tahu. Dengan wajah penuh pertanyaan, dia menungguku memberikan jawaban.
"Tidak! Aku tidak akan membeli apapun dari tempat ini. Justru tempat ini yang akan memberikan semuanya secara cuma-cuma kepada kita." Aku berusaha menjelaskan.
"Ohya? Kenapa bisa begitu?" Nisa tampak heran. Kedua alisnya terangkat, tatapannya tajam.
"Tentu saja! Di dalam sana ada sebuah tempat favoritku. Letaknya memang terpencil dan jauh dari keramaian. Sebuah balkon berbentuk persegi panjang berukuran kira-kira 2 x 5 meter yang dikelilingi pagar besi bergaya minimalis. Balkon itu berada di lantai dua, hanya berjarak beberapa meter dari loading door, tepat berada di atas tangga darurat." Aku mencoba menceritakan, sambil menunjuk pintu masuk Mall.
"Kau ingin mengajakku ke sana?" Nisa melontarkan semacam kalimat retoris. Sebab, aku memang ingin mangajaknya ke sana.
"Tentu saja!" Kataku singkat.
***
Kami mulai memasuki Mall.
Seperti biasa, kami menyaksikan banyak hal lumrah.
Beberapa anak muda sedang mengabadikan momen kebersamaannya di depan lobby utama. Wanita cantik dengan beberapa kantong belanjaan mewah di kedua tangannya. Sebuah standing banner toko sepatu bertuliskan "Diskon up to 70%. Pusat informasi memberitahukan bahwa sesorang harus mengecek kembali posisi kendaraannya lewat pengeras suara. Sementara orang-orang terus berjalan mengelilingi Mall sambil menatap barang-barang di etalase toko dengan tatapan yang kosong.
***
Nisa terlihat tak sabar ingin segera ke sana. Langkahnya yang malu-malu mendadak jadi terburu-buru - selalu mendahului langkah kakiku. Kami segera menuju arah barat daya.
Kemudian kami mulai menaiki tangga darurat. Nisa berada beberapa anak tangga lebih dulu di hadapanku.
"Hey, tak usah terlalu terburu-buru!" Kataku.
Nisa menoleh ke arahku, kemudian tersenyum.
Akhirnya Nisa sampai di balkon itu lebih dulu. Sementara aku masih berusaha menaiki beberapa anak tangga lagi.
Beberapa detik kemudian, aku sampai di balkon itu.
Aku melihat Nisa sedang berdiri tegak, sembari kedua telapak tanggannya memeluk pagar balkon. Sementara itu, matahari pukul lima menerpa sebagian wajah bagian kirinya. Matanya menyipit, sebagian giginya terlihat.
"Ini tempat yang kau maksud?" Kata Nisa - setengah melamun. Matanya tak pernah lepas menatap pemandangan di sekitar.
Aku tersenyum.
"Dulu aku sering ke sini. Duduk santai menikmati senja sembari makan roti coklat. Dari sini kita bisa melakukan banyak hal menarik. Seperti menyaksikan pasangan kekasih yang saling bermesraan di sudut taman. Menikmati alunan musik akustik dari Amphitheatre. Melihat beberapa anak kecil yang berlarian mengelilingi Water Fountain. Menatap Gunung Ciremai yang semakin menua. Menghitung jumlah gerbong kereta yang melintas. Dan masih banyak lagi." Kataku dari arah belakang.
Aku mulai mendekatinya. Kemudian berdiri di samping kanannya.
Tiba-tiba angin berhembus perlahan. Seketika ujung rambut Nisa menerpa sebagian wajahku. Nafasku mendadak tertahan beberapa saat. Kemudian hening.
"Kau suka tempat ini?" Aku berusaha mencairkan suasana.
"Iya, aku suka sekali." Kata Nisa.
"Sebentar lagi senja akan segera tiba. Kita tidak boleh melewatkannya." Kataku dengan wajah serius. Lalu aku mengajaknya untuk duduk di sudut balkon.
Nisa tesenyum, kemudian mengangguk sebagai isyarat persetujuan.
***
Senja mulai menampakkan keindahannya. Cahaya jingga seketika menerpa wajah kami berdua. Tiba-tiba sebuah kereta penumpang melintas di hadapan kami.
"Kau sedang apa?" Tanya Nisa.
"Aku sedang menghitung jumlah gerbongnya. Ayo ikuti aku!" Aku berusah mengajaknya.
Lalu Nisa mulai mengikutiku menghitungnya. Kami seperti dua anak kecil yang sedang belajar berhitung.
"Hey lihat itu! Lihat itu! Perempuan kecil di gerbong nomer lima melambaikan tangan ke arah kita." Nisa membuatku terkejut. Dia terlihat sangat bahagia.
"Oh iya, Dia lucu sekali." Kataku. Kemudian kami balik melambaikan tangan ke anak kecil itu.
Kami tertawa lepas - seolah tak memiliki masalah. Kami terus menatap gerbong terakhir yang semakin menjauh dari pandangan kami
"Kau sudah berhasil menghitungnya?" Kataku.
"Tentu saja! Jumlahnya ada sebelas gerbong." Nisa sangat antusias memberikan jawaban.
"Kau benar." Kataku.
***
Senja semakin larut di telan waktu. Tapi kami masih berada di sana. Menyaksikan banyak hal menarik di sekeliling kami.
Tiba-tiba Nisa menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. "Terima kasih. Kau sudah mengajakku ke tempat ini." Katanya.
Aku berusaha membuat semuanya seolah terlihat baik-baik saja. Aku berusaha mengontrol nafasku. Aku berusaha mengontrol semuanya.
Aaaah, aku suka adegan ini. Jika bisa, aku ingin memutarnya beberapa kali dalam gerak lambat. Ini momen langkah.
"Sa.. Sama-sama." Kataku, dengan nada yang sedikit tertatih.
Kemudian Nisa tersenyum sembari menatap mataku. Nisa semakin nyaman dengan posisi seperti itu - menyandarkan seluruh keluh kesahnya di pundakku.
Entahlah, aku tidak bisa menghitung berapa banyak senyuman yang Nisa lontarkan waktu itu. Terlalu banyak senyuman di antara kami.
Sementara itu, dari panggung Amphitheatre terdengar sebuah band sedang membawakan beberapa lagu bertema cinta. Kali ini lagu berjudul Something Stupid mengalun indah di telinga kami berdua.
I practice every day
To find some clever lines to sayTo make the meaning come true
And then I think I'll wait
Until the evening gets late
And I'm alone with you.
The time is right
Your perfume fills my head,
The stars get red.
And all the nights so blue.
And then I go and spoil it all
By saying something stupid like "I love you."
Kami masih berada di sana. Duduk berdampingan menikmati senja penghabisan.
***
Inilah Imajinasi Cinta.
Lepaskanlah semua kenyataan-kenyataan yang terkadang sering menyiksa perasaanmu. Berikan imajinasimu kesempatan untuk merangkai peristiwa yang mungkin tidak akan kau temukan di dunia nyata. Hentikan segala aktifitasmu, kemudian mulailah berimajinasi tentang apa saja yang bisa membuatmu merasa bahagia.
Selamat mencoba :)
(Nandang Mohammed : 5 September 2014)
Jumat, 29 Agustus 2014
Berdoa
Sejak kecil, aku memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan dengan cepat mengabulkan doa seseorang yang sedang berulang tahun.
Semua doa memang akan di kabulkan. Tapi, barangkali harus menunggu antrian.
Sedangkan, doa seseorang yang sedang berulang tahun memiliki semacam prioritas khusus di hadapan Tuhan - akan lebih didahulukan.
Sejak kecil, aku memang suka berdoa.
Aku jadi ingat, biasanya selepas Bapak shalat maghrib aku sering duduk di pangkuannya sembari ikut menengadahkan tangan. Mengamini setiap doa yang Bapak panjatkan kepada Tuhan. Memperhatikan jempol tangan Bapak yang sering digesek-gesekkan dengan jari telunjuk. Setelah selesai berdoa, biasanya Bapak selalu menanyakan tentang doaku sambil memakaikan kopiahnya ke kepalaku.
"Nandang tadi doa apa?" Kata Bapak.
"Rahasia dong." kataku. Aku memang sering menyimpan rahasia-rahasia.
Padahal, waktu itu aku berdoa ingin punya Tamiya baru.
Sampai saat ini, aku semakin sering berdoa. Sebab doa adalah ibadah. Aku selalu meminta apa saja yang aku inginkan kepada Tuhan. Sebab, konon doa adalah semacam negosiasi untuk menawar masa depan yang lebih baik, perasaan perasaan yang lebih baik, atau apa saja yang nantinya akan jadi jauh lebih baik. Aku percaya itu!
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan tentu saja aku akan berdoa.
Tentang doaku hari ini. Biarlah menjadi rahasia antara aku dan Tuhan. :)
(Nandang Mohammed : 29 Agustus 2014)
Kamis, 28 Agustus 2014
Membuka Rahasia
Tentang seluruh rahasiaku padamu.
Aku rasa kau memang harus tahu!
Sebab, bukankah cinta akan terlalu tidak adil ketika tak kedunya sama tahu? Tapi, akan lebih pengecut lagi jika cinta hanya dikubur dalam angan-angan kegelisahan.
Hingga saatnya kita berdialog lewat pesan singkat.
"Hai, aku Nandang." Kataku.
"Hai, aku Nisa." Katamu.
Malam itu angin berhembus secara perlahan. Merambati pori-pori kulit, merangsek masuk menusuk tulang rusuk kita berdua.
Aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang aku punya. Menyelaraskan keping demi keping, untuk kemudian aku susun secara perlahan. Ketika sudah dirasa cukup, aku mulai bersiap untuk memulai semuanya.
"Beberapa hari yang lalu kau baru saja berulang tahun ya?" Aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadamu. Mencoba basa basi.
"Iya, kenapa bisa tahu?" katamu.
Barangkali kau bertanya-tanya: Bagaimana aku bisa mengetahui tanggal lahirmu, padahal kita baru saja kenal.
Ah, kau tak pernah tahu. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, mencari tahu segala sesuatu tentangmu. Aku memang sudah terlanjur tahu banyak tentang dirimu. sejak berbulan-bulan yang lalu.
Aku tak menjawab pertanyaanmu tadi.
"Selamat ulang yahun ya. Aku punya sesuatu untuk kamu." Barangkali ini adalah sesuatu yang terlambat untuk diucapkan. Tapi, aku rasa tidak ada yang salah dengan semua ini.
"Makasih ya. Ohya? Apa itu, apa itu?" Kau seolah penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Ini adalah sebuah hadiah ulang tahun untukmu. Semoga kamu mau menerimanya dengan baik, membukanya, kemudian membacanya. Tak usah terlalu terburu-buru, sebab aku pun menuliskannya secara perlahan." Aku mencoba menjelaskan.
Tak lama berselang, aku mengirimmu sebuah link yang di dalamnya berisi sebuah tulisan yang mewakilkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Sebuah tulisan sederhana berjudul Cinta Di Bawah Senja yang aku posting pada blog pribadiku beberapa hari yang lalu. Tepat di hari ulan tahunmu.
"Tulisan itu untukku? Terima kasih banyak ya. Aku suka sekali hadiahnya. Aku tidak pernah membayangkan akan ada seorang pria yang mencintaiku dengan tulus sepertimu." Kau terkejut.
"Nisa, aku mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku. Aku sangat menyayangimu." Aku berusaha mengungkapkan.
Aku sengaja tidak memberimu sebuah pertanyaan "Maukah kamu jadi kekasihku?". Sebab, semuanya sudah jelas. Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, kan? Aku sangat mengerti perasaanmu.
Angin malam terasa semakin menusuk pori-poriku. Ada getar di leherku. Sementara sepi terus menyeruak pikiranku. Detak jam dinding terdengar begitu meneror. Sebuah kantong plastik hitam tertiup angin di halaman depan rumah, seolah mengabarkan pada rembulan bahwa ada seorang pemuda yang sedang bersedih. Sementara itu, gelap malam semakin menenggelamkan kita berdua.
"Nisa, izinkan aku tetap mencintaimu." Kataku sekali lagi.
Barangkali kau tersenyum haru.
"Terima kasih banyak." Katamu.
Sejak saat itu, aku merasa lega. Sebab, sudah tidak ada lagi rahasia-rahasia di antara kita berdua. Aku sudah mengungkapkan semua peraasaanku - rahasiaku padamu.
Sudahlah, barangkali aku akan kembali menjadi seorang pemuda yang mencintai senja.
(Nandang Mohammed : 28 Agustus 2014)
Bertukar Peran
Bagaimana jika suatu hari nanti dunia memberi kita sebuah hiburan aneh sebagai intermezzo dalam menjalani hidup? Misalnya, memberi kita kesempatan untuk bertukar peran dengan orang yang dalam keseharian begitu bertolak belakang dengan kita.
Barangkali akan ada rembulan yang merindukan pungguk. Memperhatikan sang pungguk dari ketinggian dengan seluruh cahayanya.
Barangkali juga kita tidak akan lagi mendengar berita perampok yang melarikan beberapa kilogram emas - dalam pengejaran polisi. Sebab, para perampok sedang asik menikmati pekerjaan barunya. Memalak para pengemudi yang tidak taat aturan lalu lintas di sebuah persimpangan kota.
Dan barangkali Nisa akan berbalik memperhatikan semua tingkah laku dan kebiasaanku dari kejauhan. Mengakrabi senyumku. Memikirkan namaku setiap kali malam datang, dan membuatnya sulit untuk tidur. Sementara aku tetap merasa bahwa semuanya baik-baik saja.
Dengan begitu, mungkin dunia akan menjadi lebih menarik - lebih adil. Sebab, semua orang akan merasakan perasaan-perasaan yang sama. Bukankah begitu?
(Nandang Mohammed : 28 Agustus 2014)
Senin, 18 Agustus 2014
Cinta Di Bawah Senja
Sekitar 10 bulan yang lalu. Aku pertama kali melihatmu, dan biasa saja.
Seperti kebanyakan wanita, tapi waktu itu kau terlihat sedikit tomboy. Terlihat dari celana jeans yang kau kenakan sedikit lusuh di bagian bawahnya. Sementara itu, sirkulasi udara yang kurang baik memaksa keringat merembes kaos oblong bagian punggungmu. Kau terlihat gagah bersandang jam tangan analog berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirimu. Dan waktu itu senyummu masih biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada perasaan asing sama sekali. Semuanya berjalan seperti biasanya, dan apa adanya.
Waktu itu aku masih baik-baik saja!
***
Tuhan tidak membekali kita kemampuan untuk menolak hukum waktu. Semuanya terus berjalan maju!
Hingga akhirnya kita bertemu!
Sore itu, entah bagaimana caranya kau terlihat begitu anggun. Celana katun hitam dan kaos polo biru tua yang kau kenakan begitu pas melekat tubuhmu. Matamu putih bersih dengan retina hitam pekat di tengah-tengahnya, mata yang puitis. Alismu tebal dan simetris. Wajahmu bersih dengan tai lalat kecil di bawah kelopak mata kananmu, nyaris tak terlihat. Sementara itu, matahari pukul empat telah menyamarkan warna rambutmu menjadi kuning keemasan : waktu itu kau menguncungnya.
Aku menatapmu setengah melamun. Kau juga balik menatapku. Kemudian mata kita bertemu, nafasku seolah tertahan. Sedetik berselang masing-masing diantara kita saling memalingkan tatapannya. Aku pura-pura memainkan telpon genggamku, kau seolah-olah sedang melihat seseorang dikejauhan.
Entah kenapa sore itu senja begitu sayang untuk dilewatkan. Cahaya jingga tak henti-hentinya menyelinap masuk melewati lorong-lorong perasaanku.
Mungkinkah aku jatuh cinta padamu?
***
Barangkali cinta memang tak memiliki sopan santun. Cinta selalu datang tanpa permisi. Tanpa basa-basi.
Sejak saat itu, aku jadi punya kebiasaan baru. Aku sering memperhatikanmu dari kejauhan. Menyaksikan semua tingkah laku dan kebiasaanmu.
Kau sering berdiri di depan pintu sembari menyembunyikan kedua telapak tanganmu di belakang pinggul, mirip anggota pramuka dalam keadaan istirahat di tempat, tentunya dengan situasi yang jauh lebih rileks. Terkadang kau juga menyandarkan tubuh bagian belakangmu ke tembok. Yang paling aku suka, kau tak pernah segan untuk melontarkan senyum pada siapa saja yang mengajakmu berbicara. Kau murah senyum. Aah, aku suka senyumanmu. Aku suka barisan gigi-gigimu yang rapih. Tapi tunggu dulu, ternyata kau masih punya satu tai lalat lagi di bawah lengkung bibir sebelah kanan. Itu terlihat manis.
Saat jam kerja, kau selalu menguncung rambutmu dengan sangat rapih. Aku jadi bisa menyaksikan rambut-rambut halus di lehermu. Sementara sepulang kerja, kau lebih suka menggerai rambutmu yang ikal bergelombang. Membiarkannya saling bersahutan tertiup angin.
Sejak SMP, aku memang selalu membayangkan pada suatu saat nanti akan jatuh cinta pada wanita dengan rambut terkuncung.
Ah, rupanya aku memang jatuh cinta padamu!
***
Tanpa kau sadari, aku sering mengakrabi senyummu dari kejauhan. Sembari berharap kau menyadari semuanya, lalu menoleh ke arahku untuk kemudian melontarkan sebuah senyum perkenalan. Aku suka caramu tersenyum.
Di kepalaku selalu bertaburan pertanyaan-pertanyaan tentangmu. Aku selalu berusaha cari tahu apa saja tentang dirimu. Sebab, segala sesuatu tentangmu begitu menarik untuk aku bahas dalam ruang-ruang imajinasiku.
Aku tahu kau lebih suka Ironman dibandingkan Batman. Aku juga tahu kalau kau lebih suka minun teh dibandingkan susu ataupun kopi. Kau lebih suka kangkung dibandingkan bayam. Kau suka memakai jam tangan. Sering ngebut di jalan. Sering kehilangan karet rambut. Dan heeey, ternyata aku 11 hari lebih muda darimu. Kita lahir di bulan yang sama, dan tahun yang sama pula.
Sekarang aku sudah banyak tahu tentang dirimu, walaupun tidak seluruhnya. Tapi paling tidak, aku tahu mana yang kau suka dan mana yang tidak kau suka.
***
Sampai pada akhirnya aku juga tahu kalau ternyata kau sudah punya seorang kekasih. Kau terlihat sangat bahagia dengannya. Kau sudah menjalin hubungan cukup lama. Jauh lebih lama sebelum aku pertama kali melihatmu. Sungguh, aku tak ingin secuil pun merusak kebahagiaanmu.
Kau tahu? Saat mengetahui itu, di kepalaku seperti terdapat sebuah tabrakan pesawat paling dahsyat. Menyisakan puing-puing lamunan yang tak berkesudahan. Pikiranku seketika membeku. Tak ada satu kata pun yang mampu terucap dari bibirku yang layu. Hanya kesunyian yang tersisa. Ya, hanya kesunyian.
Aku mulai gila.
***
Nisa, aku tahu itu adalah namamu. Dan entah kenapa namamu yang sederhana selalu menjadi begitu istimewa bagiku. Annisa Putri. Aku selalu suka namamu sejak pertama kali mengetahuinya.
Konon setiap laki-laki punya minimal satu rahasia dalam hidupnya. Aku punya beberapa! Dan mencintaimu merupakan rahasia terbesar dalam hidupku. Sebab pada awalnya aku memang merahasiakan semua ini. Tak ada satu orang pun yang tahu.
Tapi sekarang, rasanya tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. Aku tidak ingin menyembunyikan lebih banyak rahasia lagi darimu. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku.
Nisa, selama ini akulah pemuja rahasiamu. Akulah orang yang selalu menyaksikan langkah kakimu yang malu-malu. Aku menyukaimu sejak lama, tapi tak pernah berani mengungkapkannya. Entah kenapa di hadapan cinta aku mendadak pengecut dan cenderung menjadi penakut.
Nisa, mungkin beberapa cinta memang ditakdirkan tidak berujung. Tidak menemukan muaranya. Biarlah, aku tak ingin menagih apa-apa dari cinta. Aku cukup bahagia mencintaimu dengan cara seperti ini. Lebih baik begini - ya, begini lebih baik.
Tapi Nisa, aku selalu berharap senja mengabarkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Aku berharap Tuhan mengabulkan doa-doaku tentangmu.
Nisa, berbahagialah. Dan jika hidup kurang menyenangkan, bersenang-senanglah. Sebab kebahagiaanmu adalah salah satu doaku yang dikabulkan Tuhan.
Nisa, aku masih menunggumu.
Dalam keadaan yang tidak sedang baik-baik saja! :)
(Nandang Mohammed : 18 Agustus 2014)
Senin, 14 Juli 2014
CINTA TANPA RASA
Jika suatu saat kau merasakan ada sesuatu yang aneh ketika berjalan, maka menolehlah kebelakang!
Disana kau akan menemukan seorang pria dengan wajah penuh harapan. Seseorang yang selalu memperhatikan langkah kakimu yang malu-malu.
Jika suatu saat kau merasakan ada sesuatu yang aneh ketika berjalan, maka menolehlah kebelakang!
Kau akan menemukan sebuah bukti cinta. Seseorang yang rela mengorbankan separuh waktunya hanya untuk memikirkan satu nama.
Jika suatu saat kau merasakan ada sesuatu yang aneh ketika berjalan, maka menolehlah kebelakang!
Karena seseorang secara diam-diam telah memperhatikan gestur tubuhmu. Menyaksikan rambut-rambut halus di lehermu yang saling bersautan tertiup angin.
Jika suatu saat kau merasakan ada sesuatu yang aneh ketika berjalan, maka menolehlah kebelakang!
Sebab kau tak pernah tahu bahwa dibelakangmu ada seseorang yang selalu menyelipkan namamu dalam doa-doanya yang sederhana. Seseorang yang selalu tersenyum haru ketika melihatmu bahagia. Sebab baginya, bahagiamu adalah salah satu doa yang dikabulkan Tuhan.
Dan jika suatu saat kau merasakan ada sesuatu yang aneh ketika berjalan, maka jangan ragu untuk menoleh kebelakang!
Barangkali seseorang itu telah lelah mengikuti dan memandangimu dari kejauhan. Maka, berjalanlah ke arahnya. Berikan dia sebuah senyuman terindah. Tampilkanlah barisan gigi-gigimu yang rapih. Sebab, barangkali cinta bukan hanya soal penantian. Cinta juga meliputi kepastian-kepastian!
Menolehlah kebelakang!
(Nandang Mohammed : 15 Juli 2014)
Langganan:
Postingan (Atom)




