Jumat, 05 September 2014

Imaji Cinta


Jika cinta bukan terbuat dari perasaan, imajinasi, dan serangkaian harapan yang berkoalisi menjadi suatu kesatuan. Lalu apa?

Terlalu banyak cara untuk medefinisikan cinta. Maka, terlalu banyak cara pula untuk menikmatinya.

***

Aku menjemputnya tepat jam empat sore!

"Kita mau pergi ke mana?" Kata Nisa.

Aku tersenyum.

"Nanti kau akan tahu." Jawabku, sambil menghidupkan mesin motorku.

Waktu itu, langit kota sangat cerah. Burung-burung menari di atas dahan pohon dalam balutan suasana keceriaan. Daun-daun kering yang berguguran menjadi pemandu sepanjang perjalanan kami berdua.

Tak lama berselang, kami tiba di sebuah parkiran Mall sudut kota.

"Ternyata kau ingin mengajakku ke Mall? Kau ingin membeli sesuatu?" Nisa mencoba cari tahu. Dengan wajah penuh pertanyaan, dia menungguku memberikan jawaban.

"Tidak! Aku tidak akan membeli apapun dari tempat ini. Justru tempat ini yang akan memberikan semuanya secara cuma-cuma kepada kita." Aku berusaha menjelaskan.

"Ohya? Kenapa bisa begitu?" Nisa tampak heran. Kedua alisnya terangkat, tatapannya tajam.

"Tentu saja! Di dalam sana ada sebuah tempat favoritku. Letaknya memang terpencil dan jauh dari keramaian. Sebuah balkon berbentuk persegi panjang berukuran kira-kira 2 x 5  meter yang dikelilingi pagar besi bergaya minimalis. Balkon itu berada di lantai dua, hanya berjarak beberapa meter dari loading door, tepat berada di atas tangga darurat." Aku mencoba menceritakan, sambil menunjuk pintu masuk Mall.

"Kau ingin mengajakku ke sana?" Nisa melontarkan semacam kalimat retoris. Sebab, aku memang ingin mangajaknya ke sana.

"Tentu saja!" Kataku singkat.

***

Kami mulai memasuki Mall.

Seperti biasa, kami menyaksikan banyak hal lumrah.
Beberapa anak muda sedang mengabadikan momen kebersamaannya di depan lobby utama. Wanita cantik dengan beberapa kantong belanjaan mewah di kedua tangannya. Sebuah standing banner toko sepatu bertuliskan "Diskon up to 70%. Pusat informasi memberitahukan bahwa sesorang harus mengecek kembali posisi kendaraannya lewat pengeras suara. Sementara orang-orang terus berjalan mengelilingi Mall sambil menatap barang-barang di etalase toko dengan tatapan yang kosong.

***

Nisa terlihat tak sabar ingin segera ke sana. Langkahnya yang malu-malu mendadak jadi terburu-buru - selalu mendahului langkah kakiku. Kami segera menuju arah barat daya.

Kemudian kami mulai menaiki tangga darurat. Nisa berada beberapa anak tangga lebih dulu di hadapanku.

"Hey, tak usah terlalu terburu-buru!" Kataku.

Nisa menoleh ke arahku, kemudian tersenyum.

Akhirnya Nisa sampai di balkon itu lebih dulu. Sementara aku masih berusaha menaiki beberapa anak tangga lagi.

Beberapa detik kemudian, aku sampai di balkon itu.
Aku melihat Nisa sedang berdiri tegak, sembari kedua telapak tanggannya memeluk pagar balkon. Sementara itu, matahari pukul lima menerpa sebagian wajah bagian kirinya. Matanya menyipit, sebagian giginya terlihat.

"Ini tempat yang kau maksud?" Kata Nisa - setengah melamun. Matanya tak pernah lepas menatap pemandangan di sekitar.

Aku tersenyum.

"Dulu aku sering ke sini. Duduk santai menikmati senja sembari makan roti coklat. Dari sini kita bisa melakukan banyak hal menarik. Seperti menyaksikan pasangan kekasih yang saling bermesraan di sudut taman. Menikmati alunan musik akustik dari Amphitheatre. Melihat beberapa anak kecil yang berlarian mengelilingi Water Fountain. Menatap Gunung Ciremai yang semakin menua. Menghitung jumlah gerbong kereta yang melintas. Dan masih banyak lagi." Kataku dari arah belakang.

Aku mulai mendekatinya. Kemudian berdiri di samping kanannya.

Tiba-tiba angin berhembus perlahan. Seketika ujung rambut Nisa menerpa sebagian wajahku. Nafasku mendadak tertahan beberapa saat. Kemudian hening.

"Kau suka tempat ini?" Aku berusaha mencairkan suasana.

"Iya, aku suka sekali." Kata Nisa.

"Sebentar lagi senja akan segera tiba. Kita tidak boleh melewatkannya." Kataku dengan wajah serius. Lalu aku mengajaknya untuk duduk di sudut balkon.

Nisa tesenyum, kemudian mengangguk sebagai isyarat persetujuan.

***

Senja mulai menampakkan keindahannya. Cahaya jingga seketika menerpa wajah kami berdua. Tiba-tiba sebuah kereta penumpang melintas di hadapan kami.

"Kau sedang apa?" Tanya Nisa.

"Aku sedang menghitung jumlah gerbongnya. Ayo ikuti aku!" Aku berusah mengajaknya.

Lalu Nisa mulai mengikutiku menghitungnya. Kami seperti dua anak kecil yang sedang belajar berhitung.

"Hey lihat itu! Lihat itu! Perempuan kecil di gerbong nomer lima melambaikan tangan ke arah kita." Nisa membuatku terkejut. Dia terlihat sangat bahagia.

"Oh iya, Dia lucu sekali." Kataku. Kemudian kami balik melambaikan tangan ke anak kecil itu.

Kami tertawa lepas - seolah tak memiliki masalah. Kami terus menatap gerbong terakhir yang semakin menjauh dari pandangan kami

"Kau sudah berhasil menghitungnya?" Kataku.

"Tentu saja! Jumlahnya ada sebelas gerbong." Nisa sangat antusias memberikan jawaban.

"Kau benar." Kataku.

***

Senja semakin larut di telan waktu. Tapi kami masih berada di sana. Menyaksikan banyak hal menarik di sekeliling kami.

Tiba-tiba Nisa menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. "Terima kasih. Kau sudah mengajakku ke tempat ini." Katanya.

Aku berusaha membuat semuanya seolah terlihat baik-baik saja. Aku berusaha mengontrol nafasku. Aku berusaha mengontrol semuanya.

Aaaah, aku suka adegan ini. Jika bisa, aku ingin memutarnya beberapa kali dalam gerak lambat. Ini momen langkah.

"Sa.. Sama-sama." Kataku, dengan nada yang sedikit tertatih.

Kemudian Nisa tersenyum sembari menatap mataku. Nisa semakin nyaman dengan posisi seperti itu - menyandarkan seluruh keluh kesahnya di pundakku.

Entahlah, aku tidak bisa menghitung berapa banyak senyuman yang Nisa lontarkan waktu itu. Terlalu banyak senyuman di antara kami.

Sementara itu, dari panggung Amphitheatre terdengar sebuah band sedang membawakan beberapa lagu bertema cinta. Kali ini lagu berjudul Something Stupid mengalun indah di telinga kami berdua.

I practice every day
To find some clever lines to say
To make the meaning come true
And then I think I'll wait
Until the evening gets late
And I'm alone with you.
The time is right
Your perfume fills my head,
The stars get red.
And all the nights so blue.
And then I go and spoil it all
By saying something stupid like "I love you."

Kami masih berada di sana. Duduk berdampingan menikmati senja penghabisan.

***

Inilah Imajinasi Cinta.
Lepaskanlah semua kenyataan-kenyataan yang terkadang sering menyiksa perasaanmu. Berikan imajinasimu kesempatan untuk merangkai peristiwa yang mungkin tidak akan kau temukan di dunia nyata. Hentikan segala aktifitasmu, kemudian mulailah berimajinasi tentang apa saja yang bisa membuatmu merasa bahagia.

Selamat mencoba :)

(Nandang Mohammed : 5 September 2014)