Sabtu, 28 April 2012

TAKDIR


Apa yang dimaksud dengan takdir? Apakah takdir manusia bisa dirubah?

Sebenarnya aku tidak begitu mengerti dsoal takdir. Menurutku takdir hanya akan membuat kepalaku pusing ketika memikirkannya. Pernah suatu ketika aku mencari pengertiannya di Internet, tapi semua itu hanya membuat kepalaku sedikit mengeluarkan asap.
Dulu aku pernah mendapatkan tugas dari guruku pada pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), beliau memberikan tugas kepada kelompokku untuk mencari sebuah deskripsi tentang berbagai macam aliran Islam. Dari berbagai macam aliran Islam yang ada, dengan spontan aku tertarik pada 2 aliran yang saling bertolak belakang. Nama alirannya adalah aliran QADARIYAH dan aliran JABARIYAH. Aliran ini saling bersinggungan mengenai intervensi Tuhan terhadap takdir manusia. Baiklah sedikit aku ceritakan tentang aliran tersebut.

Aliran QADARIYAH : Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Adapun menurut pengertian termonologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa Qadariyah dipakai untuk nama aliran yang memberi penekanan atas kebebasan, manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia harus tunduk pada qadar Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan takdir? Apakah takdir manusia bisa dirubah?

Aliran JABARIYAH : Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara dalam bahasa Arab yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu. Pengertian arti kata secara etimologi diatas telah dipahami bahwa kata jabara merupakan suatu paksaan di dalam melakukan setiap sesuatu, atau dengan kata lain ada unsur keterpaksaan. Dapat kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya.

Aku pusing mendengarnya. Bagaimana dengan kalian?
Lebih baik aku bercerita saja!

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." demikianlah mantra yang aku rapalkan ketika di suatu subuh mendapati kabar bahwa sepupuku meninggal dunia. Aku terdiam sejenak ketika mendengar kabar itu. Rudi sepupuku, begitu cepat dia pergi. Rudi meninggal dunia dalam suatu pembunuhan sekelompok geng motor. Ia diserang oleh sekelompok geng motor pada malam hari di sebuah jalur pantura, tubuhnya penuh dengan luka akibat bacokan, darah mengalir begitu deras menyelimuti tubuhnya yang tidak berdosa. Tuhan, apakah ini yang dimaksud dengan takdir? Apakah takdir Rudi memang harus meninggal di tangan geng motor?

Setiap kali mendengar berita kematian, kita tercenung. Bila sempat dan teringat, barangkali kita bertanya-tanya : Kapankah giliran kita?
Tuan Izrail adalah dalang dari semua ini, dialah yang memegang kertas skenario Tuhan. Kadang aku berharap bisa melihatnya, mungkin hanya sekedar untuk bercakap-cakap atau bernegosiasi dengannya. Sebab rupanya selama ini hanya dia yang bisa melihatku, mengetahui keberadaanku, sementara tidak sebaliknya. Memang sedikit terdengar tidak adil, tapi sudahlah!

Tuhan, kalau tiba giliranku untuk bertemu dengan Tuan Izrail, aku ingin berdoa sejenak sebagai salam perpisahanku.

"Tuhan, aku bukanlah pemuda yang baik, tetapi apabila ada beberapa kebaikan yang pernah aku kerjakan, dan jika itu memang pantas diberi pahala, ambilah pahalaku! Jika boleh, aku ingin menukarnya dengan kebahagiaan lain untuk kedua orang tuaku, keluargaku, dan orang-orang yang selama ini menyayangiku maupun membenciku. Sayangilah mereka, bahagiakanlah mereka!"

Semoga kau mendengar dan mengabulkan doaku :)

Senin, 02 April 2012

Story Of Senior High School


Nanda, cewek grasak-grusuk yang ngga bisa diem, bawel, tapi baik.
Jessica, cewek jutek, ceroboh, sedikit kasar dan juga menyebalkan.
Rona, cewek polos, ngeyel, punya pendirian dan ngga mau kalah.
Mereka bertiga sudah bersahabat sejak duduk di bangaku Sekolah Menengah Pertama. Segala sesuatunya hampir dilakukan secara bersama-sama, mulai dari mengerjakan tugas sekolah, belanja pakaian, curhat, bahkan pergi ke toilet. Mereka sangat kompak, menerobos lika-liku kehidupan yang sakral dengan sangat tajam bagaikan Trisula milik Rapahael si kura-kura ninja TMNT. Persahabatan mereka terjalin dengan sangat harmonis, mereka sudah saling mengerti karakter satu sama lain, saling bahu-membahu menyatukan pikiran. Sampai pada akhirnya waktu telah menuntun mereka dari masa remaja menuju ke dewasa. Tidak terasa sudah 3 tahun mereka bersahabat, dan tidak lama lagi mereka akan beranjak ke Sekolah Menengah Atas.

"Eh, setelah lulus SMP kalian mau masuk SMA mana?" tanya Rona kepada kedua sahabatnya di suatu hari setelah pulang sekolah.

"Aku masih bingung Ron, aku belum punya pilihan." Jessica mulai berkomentar.

"Kalau menurut aku semua sekolah itu sama, toh intinya sama-sama memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan! Yang terpenting kita harus selalu bersama sampai kapanpun!" Nanda tak ketinggalan mengungkapkan pendapatnya.

Akhirnya mereka sepakat untuk mendaftarkan diri ke sekolah yang sama. Dan ternyata takdir masih mengizinkan mereka untuk bersama lebih lama lagi, al hasil mereka semua diterima, bahkan mereka duduk di kelas yang sama.

Di sekolah yang baru mereka bertemu dengan:
Septi, cewek pendiam, cuek, baik, ramah dan juga sopan.
Irma, cewek cuek yang sedikit centil dan baik.
Suny, cewek anggun, ramah, pendiam dan baik.
Mereka berasal dari latar belakang sekolah yang berbeda

Persahabatan yang dulu hanya beranggotakan 3 orang, kini berubah formasi menjadi genap 6 orang. Mereka bersahabat dengan sangat baik, saling menolong satu sama lain bagaikan semut kecil yang manis. Semuanya berjalan baik-baik saja, tanpa ada halangan sekecil apapun. Suka dan duka mereka selalu jalani bersama, hampir tak ada hal sekecil apapun yang mereka tutup-tutupi, semuanya saling terbuka, mereka sering melakukan sharing. Sampai pada akhirnya ada suatu masalah yang menyebabkan Rona keluar dari kelompok ini.

"Teman, sebenarnya aku ngga mau ambil keputusan ini. Tapi apa boleh buat, tekatku sudah bulat. Aku mau keluar dari kelompok ini, aku merasa pendapatku dengan teman-teman yang lain selalu bersinggungan. Aku memutuskan untuk keluar!" ungkap Rona kepada para sahabatnya. Seketika para sahabatnya sangat terkejut mendengar keputusan Rona.

"Ya sudah, kalau itu memang yang terbaik untuk kamu!" timpal Jessica

Persahabatan memang tidak selalu berjalan mulus seperti skenario film. Persahabatan ibarat sebuah jalan setapak yang dipenuhi dengan kerikil tajam, tanah yang tandus dan lembek, kubangan lumpur dan sebagainya. Terkadang tak lengkap rasanya jika sebuah persahabatan tidak dibumbui oleh intrik permasalahan, ada kalanya kita saling berbeda pendapat. Itu merupakan hal yang sangat wajar!

Tak terasa sudah sangat lama mereka tidak saling bertegur sapa dan memberi kabar, persahabatan mereka seolah membeku dan menggantung.
Akhirnya mereka sadar, bahwa persahabatan lebih penting dari apapun juga. Aku yakin, sebuah persahabatan akan berumur panjang apabila terdapat rasa hormat antara satu sama lain. Persahabatan yang sempat menggantung beku mulai mencair dan mengalir kembali ke dalam darah mereka masing-masing.

"Teman-teman, aku mau minta maaf pada kalian semua. Ngga seharusnya aku mengambil keputusan itu, ngga seharusnya aku mengambil keputusan di saat sedang merasa emosi. Aku benar-benar menyesali perbuatanku tempo hari!" ucap Rona kepada para sahabatnya.

"Kami ngerti koq Ron, kami semua udah maafin kamu sedari dulu" jawab Suny sembari melontarkan senyum.

"Yang dikatakan Suny bener Ron, kami udah maafin kamu. Pintu persahabatan kami selalu terbuka untuk kamu" timpal Irma.

"Makasih temen-temen, kalian emang sahabat terbaik yang pernah aku miliki." ucap Rona sembari tersenyum serta diiringi tetesan air mata kebahagiaan.

Nanda, Jessica, Irma, Suny, Septi, mereka semua tersenyum bahagia, mereka semua terbawa emosi yang berbalut kebahagiaan. Entah bagaimana caranya senyum itu terus menular di antara mereka.

Hidup selalu punya caranya sendiri untuk melobangi kebuntuan.

Ahmad Fauzi


Umeko, aku ingin bercerita kepadamu. Aku ingin bercerita tentang kisah persahabatanku. Tentang aku dan sahabatku, sebut saja dia "ozi", aku biasa memanggilnya demikian. Dia adalah sosok pemuda yang baik, 'lumayan' tampan, smart. Dia memiliki postur tubuh yang bisa dibilang sedikit bantat! Oops sorry ...
Ada suatu hal yang aku tidak sukai dari dia, diantaranya sifatnya yang pelit dan kurang solider. Tapi, itu bukan suatu penghalang bagiku untuk berteman akrab dengannya. Dia pemuda yang ceria, dia mampu mencairkan suasana di saat aku sedang galau, dia mampu menyejukkan hatiku di saat aku sedang emosi, dia mampu menguatkanku di saat aku merasa hidupku tak sehebat yang aku bayangkan. Aku memang sudah berteman sangat baik dengannya, hampir tak ada rahasia sekecil apapun yang kami tutup-tutupi, kami saling terbuka. Persahabatan kami ibarat antara gula dan semut, api dan asap, toples dan tutupnya, anak panah dan busur, tinta dan pena.

Umeko, aku sudah sangat mengerti apa yang ozi suka dan tidak suka, wajar saja, toh aku dan ozi sudah bersahabat sejak 5 tahun yang lalu. Aku masih ingat ketika pertama kali aku berkenalan dengannya.

"Hai, aku Nandang!" kataku kepada ozi dengan diiringi sebuah senyum manis.

"Hai, aku Ozi!" katanya tegas, dia membalas senyumanku.

Umeko, sejujurnya waktu itu aku masih sangat canggung untuk sekedar bercengkramah dengannya. Semua itu berbanding terbalik dengan keadaan yang sekarang, kemana-mana kami selalu bersama, kami sudah saling mengenal karakter satu sama lain.

Umeko, persahabatan kami tidaklah berjalah mulus dengan begitu saja, kami sempat didera permasalahan yang teramat serius. Persahabatan kami sempat tergantung selama kurang lebih 8 bulan dikarenakan suatu masalah yang tidak dapat aku ceritakan kepadamu. 8 bulan bukanlah waktu yang singkat, maklum saja kami berdua memang seorang pemuda yang sangat keras kepala dan tidak mau mengalah.

Umeko, akhirnya kami sadar, bahwa keegoisan bukanlah hal yang berguna dalam suatu persahabatan. Dan kami percaya bahwa hidup akan selalu indah pada waktunya. Sekarang kita udah toyor-toyoran lagi, saling pinjam-meminjam uang dan aaah, aku benar-benar tidak menyangka kalau endingnya akan seindah ini. :)

Senyum manis selalu tecurahkan dariku untukmu wahai sahabatku :)