Senin, 02 April 2012

Story Of Senior High School


Nanda, cewek grasak-grusuk yang ngga bisa diem, bawel, tapi baik.
Jessica, cewek jutek, ceroboh, sedikit kasar dan juga menyebalkan.
Rona, cewek polos, ngeyel, punya pendirian dan ngga mau kalah.
Mereka bertiga sudah bersahabat sejak duduk di bangaku Sekolah Menengah Pertama. Segala sesuatunya hampir dilakukan secara bersama-sama, mulai dari mengerjakan tugas sekolah, belanja pakaian, curhat, bahkan pergi ke toilet. Mereka sangat kompak, menerobos lika-liku kehidupan yang sakral dengan sangat tajam bagaikan Trisula milik Rapahael si kura-kura ninja TMNT. Persahabatan mereka terjalin dengan sangat harmonis, mereka sudah saling mengerti karakter satu sama lain, saling bahu-membahu menyatukan pikiran. Sampai pada akhirnya waktu telah menuntun mereka dari masa remaja menuju ke dewasa. Tidak terasa sudah 3 tahun mereka bersahabat, dan tidak lama lagi mereka akan beranjak ke Sekolah Menengah Atas.

"Eh, setelah lulus SMP kalian mau masuk SMA mana?" tanya Rona kepada kedua sahabatnya di suatu hari setelah pulang sekolah.

"Aku masih bingung Ron, aku belum punya pilihan." Jessica mulai berkomentar.

"Kalau menurut aku semua sekolah itu sama, toh intinya sama-sama memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan! Yang terpenting kita harus selalu bersama sampai kapanpun!" Nanda tak ketinggalan mengungkapkan pendapatnya.

Akhirnya mereka sepakat untuk mendaftarkan diri ke sekolah yang sama. Dan ternyata takdir masih mengizinkan mereka untuk bersama lebih lama lagi, al hasil mereka semua diterima, bahkan mereka duduk di kelas yang sama.

Di sekolah yang baru mereka bertemu dengan:
Septi, cewek pendiam, cuek, baik, ramah dan juga sopan.
Irma, cewek cuek yang sedikit centil dan baik.
Suny, cewek anggun, ramah, pendiam dan baik.
Mereka berasal dari latar belakang sekolah yang berbeda

Persahabatan yang dulu hanya beranggotakan 3 orang, kini berubah formasi menjadi genap 6 orang. Mereka bersahabat dengan sangat baik, saling menolong satu sama lain bagaikan semut kecil yang manis. Semuanya berjalan baik-baik saja, tanpa ada halangan sekecil apapun. Suka dan duka mereka selalu jalani bersama, hampir tak ada hal sekecil apapun yang mereka tutup-tutupi, semuanya saling terbuka, mereka sering melakukan sharing. Sampai pada akhirnya ada suatu masalah yang menyebabkan Rona keluar dari kelompok ini.

"Teman, sebenarnya aku ngga mau ambil keputusan ini. Tapi apa boleh buat, tekatku sudah bulat. Aku mau keluar dari kelompok ini, aku merasa pendapatku dengan teman-teman yang lain selalu bersinggungan. Aku memutuskan untuk keluar!" ungkap Rona kepada para sahabatnya. Seketika para sahabatnya sangat terkejut mendengar keputusan Rona.

"Ya sudah, kalau itu memang yang terbaik untuk kamu!" timpal Jessica

Persahabatan memang tidak selalu berjalan mulus seperti skenario film. Persahabatan ibarat sebuah jalan setapak yang dipenuhi dengan kerikil tajam, tanah yang tandus dan lembek, kubangan lumpur dan sebagainya. Terkadang tak lengkap rasanya jika sebuah persahabatan tidak dibumbui oleh intrik permasalahan, ada kalanya kita saling berbeda pendapat. Itu merupakan hal yang sangat wajar!

Tak terasa sudah sangat lama mereka tidak saling bertegur sapa dan memberi kabar, persahabatan mereka seolah membeku dan menggantung.
Akhirnya mereka sadar, bahwa persahabatan lebih penting dari apapun juga. Aku yakin, sebuah persahabatan akan berumur panjang apabila terdapat rasa hormat antara satu sama lain. Persahabatan yang sempat menggantung beku mulai mencair dan mengalir kembali ke dalam darah mereka masing-masing.

"Teman-teman, aku mau minta maaf pada kalian semua. Ngga seharusnya aku mengambil keputusan itu, ngga seharusnya aku mengambil keputusan di saat sedang merasa emosi. Aku benar-benar menyesali perbuatanku tempo hari!" ucap Rona kepada para sahabatnya.

"Kami ngerti koq Ron, kami semua udah maafin kamu sedari dulu" jawab Suny sembari melontarkan senyum.

"Yang dikatakan Suny bener Ron, kami udah maafin kamu. Pintu persahabatan kami selalu terbuka untuk kamu" timpal Irma.

"Makasih temen-temen, kalian emang sahabat terbaik yang pernah aku miliki." ucap Rona sembari tersenyum serta diiringi tetesan air mata kebahagiaan.

Nanda, Jessica, Irma, Suny, Septi, mereka semua tersenyum bahagia, mereka semua terbawa emosi yang berbalut kebahagiaan. Entah bagaimana caranya senyum itu terus menular di antara mereka.

Hidup selalu punya caranya sendiri untuk melobangi kebuntuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar