Sabtu, 08 Desember 2012
ADA APA INI?
Akhir-akhir ini, saya selalu bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Negeri ini? aaaah saya bingung.....
Mengapa akhir-akhir ini banyak sekali tindakan kriminal?
Padahal, bukankah negeri kita mempunyai banyak personil keamanaan yang selalu siap siaga kapanpun? Bukankah tugas mereka melayani dan mengayomi masyarakat? Tapi kenyataannya, mengapa mereka selalu pandang bulu? Mengapa mereka bisa dengan mudah membutakan hukum? Mengapa para pejabat yang korupsi uang rakyat mendapatkan ruangan hukuman mirip dengan hotel bintang 5? Mengapa orang miskin yang mencuri sandal bisa dihukum selama 5 tahun di tempat yang kotor, pengap dan bau? Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Mengapa orang-orang pintar identik dengan kata PELIT ILMU?
Di kelas saya banyak orang pintar, tapi setiap kali saya ingin belajar kepada mereka, mereka selalu menolak dengan alasan yang beragam. Padahal, bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang harus kita ajarkan kepada orang lain? Dan, bukankah negara kita membutuhkan banyak orang pintar untuk mengatur pemerintahan? Oh iyaaa, saya lupa, negara kita kan sudah memiliki banyak orang-orang pintar sebagai wakil para rakyatnya. Tapi yang saya tahu, orang-orang pintar yang bertugas sebagai wakil rakyat kebanyakan berujung mendekam di buih, kebanyakan dari mereka sih karena kasus korupsi. Kalau begitu, saya tidak ingin menjadi orang wakil rakyat deh, saya ingin menjadi orang pintar yang pura-pura bodoh saja.
Mengapa saya selalu bingung jika ditanya soal cita-cita?
Sebenarnya bukan cuma saya yang bingung jika ditanya soal cita-cita. Saya pernah bertanya pada salah satu teman saya, "sebenarnya, apa cita-cita kamu?". Kemudian setelah 5 menit, dia menjawab "saya ingin membahagiakan kedua orangtua saya deh". Jawaban yang mulia! Tapi menurut pandangan saya 'membahagiakan kedua orangtua' bukanlah sebuah cita-cita, tapi sebuah kewajiban bagi setiap anak. aaaaahh, saya ingin jadi Tentara saja!
Mengapa negara kita semakin diinjak-injak oleh negara tetangga?
Bukankan dulu pada saat kepemimpinan Pak Karno negara kita sangat disegani? Mengapa saat ini negara kita hanya bisa terdiam? Padahal, negara kita mempunyai kekuatan militer yang solid. Apakah kita harus terus bersabar sampai pulau-pulau kita habis direbut oleh negara tetangga? Apakah jika ingin melakukan perang harus melalui persetujuan seorang Presiden terlebih dahulu? Kalau begitu, tidak usah ada Presiden lagi. Percuma saja memiliki seorang Presiden jika tidak dapat mengambil keputusan. Percuma saja punya kekuatan jika tidak bisa diandalkan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Mengapa orang-orang sangat mudah melakukan perbuatan dosa?
Mengapa TIMNAS kita gagal melaju ke putaran semi final piala AFF 2012?
Mengapa akhir-akhir ini kita seolah kehilangan jati diri kita?
Mengapa kemiskinan di Negeri ini selalu ada?
Mengapa Negeri kita selalu dipenuhi oleh para koruptor?
Mengapa banyak artis yang beralih pekerjaan sebagai anggota partai politik?
aaaaahhh, saya benar-benar bingung!
Rabu, 05 Desember 2012
TANAH SURGA
Bukan lautan hanya kolam susu .. katanya.
Tapi kata Kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.
Kail dan jala cukup menghidupimu .. katanya.
Tapi kata Kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara.
Tiada badai tiada topan kau temui .. katanya.
Tapi, kenapa Ayahku tertiup angin ke Malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu .. katanya.
Tapi kata Kakek, Awas!! ada udang di balik batu.
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata Dokter Intel, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.
***
Ya, itu memang benar. Nyatanya Negara kesayangan kita (Indonesia) masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Baik dari segi infrastruktur, finansial, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, bahkan rasa cinta terhadap Tanah Air. Bayangkan saja, orang-orang kaya lebih memilih berlibur ke luar negeri. Padahal masih banyak destinasi di negeri sendiri yang menyimpan keindahan yang tiada duanya.
Intinya, negara kita masih berada dalam kekuasaan para pemimpin-pemimpin keparat yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Sang Wakil Rakyat". Kemana saja hasil tambang-tambang emas, intan, dan permata yang kita miliki? Kemana perginya ikan-ikan yang tersebar luas di perairan Indonesia? Kemana larinya anggaran untuk desa-desa terpencil? Dimanakah wujud rasa tanggung jawab pemimpin-pemimpin kita? Rasa Nasionalisme antar sesama pun hilang entah kemana!
Negara kita sudah terlalu banyak mempunyai orang-orang pintar. Pintar korupsi, pintar tebar janji, pintar berorasi, pintar bersembunyi, dan kemudian pergi. Sementara itu, saudara-saudara kita yang berada di perbatasan belum bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka berhak atas kesejahteraan dan kemerdekaan hidup, sama seperti yang kita rasakan saat ini.
Untuk mencari sesuap nasi saja, mereka harus mencari uang di negara tetangga. Banyak masyarakat perbatasan yang berdagang ke Malaysia. Mereka berangkat ke Malaysia di pagi hari, kemudian kembali ke tanah air menjelang sore hari. Mereka juga menggunakan mata uang Ringgit sebagai kesehariannya dalam sistem jual-beli. Produk sehari-hari yang mereka konsumsi pun berasal dari negara tetangga. Jarang sekali mereka menemukan produk-produk dalam negeri. Belum lagi masalah pendidikan yang sangat minim karena ketiadaan tenaga pengajar. Kesehatan pun diacuhkan begitu saja. Seringkali mereka lebih memilih berobat ke rumah sakit Malaysia dibandingkan rumah sakit Indonesia. Alasannya tak lain karena jarak yang terlampau jauh, juga sarana transportasi yang seadanya.
Bahkan sebagian kecil dari mereka rela berganti kewarganegaraan menjadi warga Malaysia, karena mengingat sulitnya hidup di wilayah perbatasan Indonesia. Mereka berfikir bahwa Malaysia lebih makmur jika dibandingkan dengan Indonesia. Namun, sebagian besar dari mereka lebih memilih tetap menjadi warga Negara Indonesia. Mereka selalu siap menjadi sukarelawan penjaga perbatasan negara demi keutuhan NKRI. Bahkan mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi Indonesia.
Sungguh ironi keadaan Negeri ini. Aaaah, betapa mulianya mereka di hadapan semesta. Heeeeem, Negeri ini memang lucu. Banyak para pemimpin-pemimpin berdasi yang mendapatkan kesempatan sebagai wakil rakyat dengan harapan semua rakyatnya akan sejahtera, namun mereka menyalahgunakan kepercayaan yang kita berikan demi kepentingan pribadinya. Mereka memang keparat! Sementara mereka, saudara-saudara kita yang berada di perbatasan, tetap saja begitu mulia memendam rasa cinta sebagai Indonesia. Walaupun tidak sebaliknya!
***
Puisi di atas merupakan puisi yang terdapat pada film "TANAH SURGA.. katanya"
Langganan:
Postingan (Atom)

