Rabu, 05 Desember 2012

TANAH SURGA


Tanah Surga

Bukan lautan hanya kolam susu .. katanya.
Tapi kata Kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.
 

Kail dan jala cukup menghidupimu .. katanya.
Tapi kata Kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara.
 

Tiada badai tiada topan kau temui .. katanya.
Tapi, kenapa Ayahku tertiup angin ke Malaysia

Ikan dan udang menghampiri dirimu .. katanya.
Tapi kata Kakek, Awas!! ada udang di balik batu. 
 

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata Dokter Intel, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat y
ang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.

 ***

Ya, itu memang benar. Nyatanya Negara kesayangan kita (Indonesia) masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Baik dari segi infrastruktur, finansial, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, bahkan rasa cinta terhadap Tanah Air. Bayangkan saja, orang-orang kaya lebih memilih berlibur ke luar negeri. Padahal masih banyak destinasi di negeri sendiri yang menyimpan keindahan yang tiada duanya.



Intinya, negara kita masih berada dalam kekuasaan para pemimpin-pemimpin keparat yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Sang Wakil Rakyat". Kemana saja hasil tambang-tambang emas, intan, dan permata yang kita miliki? Kemana perginya ikan-ikan yang tersebar luas di perairan Indonesia? Kemana larinya anggaran untuk desa-desa terpencil? Dimanakah wujud rasa tanggung jawab pemimpin-pemimpin kita? Rasa Nasionalisme antar sesama pun hilang entah kemana!

Negara kita sudah terlalu banyak mempunyai orang-orang pintar. Pintar korupsi, pintar tebar janji, pintar berorasi, pintar bersembunyi, dan kemudian pergi. Sementara itu, saudara-saudara kita yang berada di perbatasan belum bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka berhak atas kesejahteraan dan kemerdekaan hidup, sama seperti yang kita rasakan saat ini.

Untuk mencari sesuap nasi saja, mereka harus mencari uang di negara tetangga. Banyak masyarakat perbatasan yang berdagang ke Malaysia. Mereka berangkat ke Malaysia di pagi hari, kemudian kembali ke tanah air menjelang sore hari. Mereka juga menggunakan mata uang Ringgit sebagai kesehariannya dalam sistem jual-beli. Produk sehari-hari yang mereka konsumsi pun berasal dari negara tetangga. Jarang sekali mereka menemukan produk-produk dalam negeri. Belum lagi masalah pendidikan yang sangat minim karena ketiadaan tenaga pengajar. Kesehatan pun diacuhkan begitu saja. Seringkali mereka lebih memilih berobat ke rumah sakit Malaysia dibandingkan rumah sakit Indonesia. Alasannya tak lain karena jarak yang terlampau jauh, juga sarana transportasi yang seadanya.

Bahkan sebagian kecil dari mereka rela berganti kewarganegaraan menjadi warga Malaysia, karena mengingat sulitnya hidup di wilayah perbatasan Indonesia. Mereka berfikir bahwa Malaysia lebih makmur jika dibandingkan dengan Indonesia. Namun, sebagian besar dari mereka lebih memilih tetap menjadi warga Negara Indonesia. Mereka selalu siap menjadi sukarelawan penjaga perbatasan negara demi keutuhan NKRI. Bahkan mereka berani mempertaruhkan nyawanya demi Indonesia.

Sungguh ironi keadaan Negeri ini. Aaaah, betapa mulianya mereka di hadapan semesta. Heeeeem, Negeri ini memang lucu. Banyak para pemimpin-pemimpin berdasi yang mendapatkan kesempatan sebagai wakil rakyat dengan harapan semua rakyatnya akan sejahtera, namun mereka menyalahgunakan kepercayaan yang kita berikan demi kepentingan pribadinya. Mereka memang keparat! Sementara mereka, saudara-saudara kita yang berada di perbatasan, tetap saja begitu mulia memendam rasa cinta sebagai Indonesia. Walaupun tidak sebaliknya!

***

Puisi di atas merupakan puisi yang terdapat pada film "TANAH SURGA.. katanya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar