Jumat, 29 Agustus 2014

Berdoa


Sejak kecil, aku memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan dengan cepat mengabulkan doa seseorang yang sedang berulang tahun.

Semua doa memang akan di kabulkan. Tapi, barangkali harus menunggu antrian.
Sedangkan, doa seseorang yang sedang berulang tahun memiliki semacam prioritas khusus di hadapan Tuhan - akan lebih didahulukan.

Sejak kecil, aku memang suka berdoa.

Aku jadi ingat, biasanya selepas Bapak shalat maghrib aku sering duduk di pangkuannya sembari ikut menengadahkan tangan. Mengamini setiap doa yang Bapak panjatkan kepada Tuhan. Memperhatikan jempol tangan Bapak yang sering digesek-gesekkan dengan jari telunjuk. Setelah selesai berdoa, biasanya Bapak selalu menanyakan tentang doaku sambil memakaikan kopiahnya ke kepalaku.

"Nandang tadi doa apa?" Kata Bapak.

"Rahasia dong." kataku. Aku memang sering menyimpan rahasia-rahasia.

Padahal, waktu itu aku berdoa ingin punya Tamiya baru.

Sampai saat ini, aku semakin sering berdoa. Sebab doa adalah ibadah. Aku selalu meminta apa saja yang aku inginkan kepada Tuhan. Sebab, konon doa adalah semacam negosiasi untuk menawar masa depan yang lebih baik, perasaan perasaan yang lebih baik, atau apa saja yang nantinya akan jadi jauh lebih baik. Aku percaya itu!

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan tentu saja aku akan berdoa.

Tentang doaku hari ini. Biarlah menjadi rahasia antara aku dan Tuhan. :)

(Nandang Mohammed : 29 Agustus 2014)

Kamis, 28 Agustus 2014

Membuka Rahasia


Tentang seluruh rahasiaku padamu.
Aku rasa kau memang harus tahu!

Sebab, bukankah cinta akan terlalu tidak adil ketika tak kedunya sama tahu? Tapi, akan lebih pengecut lagi jika cinta hanya dikubur dalam angan-angan kegelisahan.

Hingga saatnya kita berdialog lewat pesan singkat.

"Hai, aku Nandang." Kataku.

"Hai, aku Nisa." Katamu.

Malam itu angin berhembus secara perlahan. Merambati pori-pori kulit, merangsek masuk menusuk tulang rusuk kita berdua.

Aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang aku punya. Menyelaraskan keping demi keping, untuk kemudian aku susun secara perlahan. Ketika sudah dirasa cukup, aku mulai bersiap untuk memulai semuanya.

"Beberapa hari yang lalu kau baru saja berulang tahun ya?" Aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadamu. Mencoba basa basi.

"Iya, kenapa bisa tahu?" katamu.

Barangkali kau bertanya-tanya: Bagaimana aku bisa mengetahui tanggal lahirmu, padahal kita baru saja kenal.

Ah, kau tak pernah tahu. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, mencari tahu segala sesuatu tentangmu. Aku memang sudah terlanjur tahu banyak tentang dirimu. sejak berbulan-bulan yang lalu.

Aku tak menjawab pertanyaanmu tadi.

"Selamat ulang yahun ya. Aku punya sesuatu untuk kamu." Barangkali ini adalah sesuatu yang terlambat untuk diucapkan. Tapi, aku rasa tidak ada yang salah dengan semua ini.

"Makasih ya. Ohya? Apa itu, apa itu?" Kau seolah penasaran.

Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.

"Ini adalah sebuah hadiah ulang tahun untukmu. Semoga kamu mau menerimanya dengan baik, membukanya, kemudian membacanya. Tak usah terlalu terburu-buru, sebab aku pun menuliskannya secara perlahan." Aku mencoba menjelaskan.

Tak lama berselang, aku mengirimmu sebuah link yang di dalamnya berisi sebuah tulisan yang mewakilkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Sebuah tulisan sederhana berjudul Cinta Di Bawah Senja yang aku posting pada blog pribadiku beberapa hari yang lalu. Tepat di hari ulan tahunmu.

"Tulisan itu untukku? Terima kasih banyak ya. Aku suka sekali hadiahnya. Aku tidak pernah membayangkan akan ada seorang pria yang mencintaiku dengan tulus sepertimu." Kau terkejut.

"Nisa, aku mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku. Aku sangat menyayangimu." Aku berusaha mengungkapkan.

Aku sengaja tidak memberimu sebuah pertanyaan "Maukah kamu jadi kekasihku?". Sebab, semuanya sudah jelas. Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, kan? Aku sangat mengerti perasaanmu.

Angin malam terasa semakin menusuk pori-poriku. Ada getar di leherku. Sementara sepi terus menyeruak pikiranku. Detak jam dinding terdengar begitu meneror. Sebuah kantong plastik hitam tertiup angin di halaman depan rumah, seolah mengabarkan pada rembulan bahwa ada seorang pemuda yang sedang bersedih. Sementara itu, gelap malam semakin menenggelamkan kita berdua.

"Nisa, izinkan aku tetap mencintaimu." Kataku sekali lagi.

Barangkali kau tersenyum haru.

"Terima kasih banyak." Katamu.

Sejak saat itu, aku merasa lega. Sebab, sudah tidak ada lagi rahasia-rahasia di antara kita berdua. Aku sudah mengungkapkan semua peraasaanku -  rahasiaku padamu.

Sudahlah, barangkali aku akan kembali menjadi seorang pemuda yang mencintai senja.

(Nandang Mohammed : 28 Agustus 2014)

Bertukar Peran


Bagaimana jika suatu hari nanti dunia memberi kita sebuah hiburan aneh sebagai intermezzo dalam menjalani hidup? Misalnya, memberi kita kesempatan untuk bertukar peran dengan orang yang dalam keseharian begitu bertolak belakang dengan kita.

Barangkali akan ada rembulan yang merindukan pungguk. Memperhatikan sang pungguk dari ketinggian dengan seluruh cahayanya.

Barangkali juga kita tidak akan lagi mendengar berita perampok yang melarikan beberapa kilogram emas - dalam pengejaran polisi. Sebab, para perampok sedang asik menikmati pekerjaan barunya. Memalak para pengemudi yang tidak taat aturan lalu lintas di sebuah persimpangan kota.

Dan barangkali Nisa akan berbalik memperhatikan semua tingkah laku dan kebiasaanku dari kejauhan. Mengakrabi senyumku. Memikirkan namaku setiap kali malam datang, dan membuatnya sulit untuk tidur. Sementara aku tetap merasa bahwa semuanya baik-baik saja.

Dengan begitu, mungkin dunia akan menjadi lebih menarik - lebih adil. Sebab, semua orang akan merasakan perasaan-perasaan yang sama. Bukankah begitu?

(Nandang Mohammed : 28 Agustus 2014)

Senin, 18 Agustus 2014

Cinta Di Bawah Senja



Sekitar 10 bulan yang lalu. Aku pertama kali melihatmu, dan biasa saja.

Seperti kebanyakan wanita, tapi waktu itu kau terlihat sedikit tomboy. Terlihat dari celana jeans yang kau kenakan sedikit lusuh di bagian bawahnya. Sementara itu, sirkulasi udara yang kurang baik memaksa keringat merembes kaos oblong bagian punggungmu. Kau terlihat gagah bersandang jam tangan analog berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirimu. Dan waktu itu senyummu masih biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada perasaan asing sama sekali. Semuanya berjalan seperti biasanya, dan apa adanya.

Waktu itu aku masih baik-baik saja!

***

Tuhan tidak membekali kita kemampuan untuk menolak hukum waktu. Semuanya terus berjalan maju!

Hingga akhirnya kita bertemu!

Sore itu, entah bagaimana caranya kau terlihat begitu anggun. Celana katun hitam dan kaos polo biru tua yang kau kenakan begitu pas melekat tubuhmu. Matamu putih bersih dengan retina hitam pekat di tengah-tengahnya, mata yang puitis. Alismu tebal dan simetris. Wajahmu bersih dengan tai lalat kecil di bawah kelopak mata kananmu, nyaris tak terlihat. Sementara itu, matahari pukul empat telah menyamarkan warna rambutmu menjadi kuning keemasan : waktu itu kau menguncungnya.

Aku menatapmu setengah melamun. Kau juga balik menatapku. Kemudian mata kita bertemu, nafasku seolah tertahan. Sedetik berselang masing-masing diantara kita saling memalingkan tatapannya. Aku pura-pura memainkan telpon genggamku, kau seolah-olah sedang melihat seseorang dikejauhan.

Entah kenapa sore itu senja begitu sayang untuk dilewatkan. Cahaya jingga tak henti-hentinya menyelinap masuk melewati lorong-lorong perasaanku.
Mungkinkah aku jatuh cinta padamu?

***

Barangkali cinta memang tak memiliki sopan santun. Cinta selalu datang tanpa permisi. Tanpa basa-basi.

Sejak saat itu, aku jadi punya kebiasaan baru. Aku sering memperhatikanmu dari kejauhan. Menyaksikan semua tingkah laku dan kebiasaanmu.

Kau sering berdiri di depan pintu sembari menyembunyikan kedua telapak tanganmu di belakang pinggul, mirip anggota pramuka dalam keadaan istirahat di tempat, tentunya dengan situasi yang jauh lebih rileks. Terkadang kau juga menyandarkan tubuh bagian belakangmu ke tembok. Yang paling aku suka, kau tak pernah segan untuk melontarkan senyum pada siapa saja yang mengajakmu berbicara. Kau murah senyum. Aah, aku suka senyumanmu. Aku suka barisan gigi-gigimu yang rapih. Tapi tunggu dulu, ternyata kau masih punya satu tai lalat lagi di bawah lengkung bibir sebelah kanan. Itu terlihat manis.

Saat jam kerja, kau selalu menguncung rambutmu dengan sangat rapih. Aku jadi bisa menyaksikan rambut-rambut halus di lehermu. Sementara sepulang kerja, kau lebih suka menggerai rambutmu yang ikal bergelombang. Membiarkannya saling bersahutan tertiup angin.

Sejak SMP, aku memang selalu membayangkan pada suatu saat nanti akan jatuh cinta pada wanita dengan rambut terkuncung.

Ah, rupanya aku memang jatuh cinta padamu!

***

Tanpa kau sadari, aku sering mengakrabi senyummu dari kejauhan. Sembari berharap kau menyadari semuanya, lalu menoleh ke arahku untuk kemudian melontarkan sebuah senyum perkenalan. Aku suka caramu tersenyum.

Di kepalaku selalu bertaburan pertanyaan-pertanyaan tentangmu. Aku selalu berusaha cari tahu apa saja tentang dirimu. Sebab, segala sesuatu tentangmu begitu menarik untuk aku bahas dalam ruang-ruang imajinasiku.

Aku tahu kau lebih suka Ironman dibandingkan Batman. Aku juga tahu kalau kau lebih suka minun teh dibandingkan susu ataupun kopi. Kau lebih suka kangkung dibandingkan bayam. Kau suka memakai jam tangan. Sering ngebut di jalan. Sering kehilangan karet rambut. Dan heeey, ternyata aku 11 hari lebih muda darimu. Kita lahir di bulan yang sama, dan tahun yang sama pula.

Sekarang aku sudah banyak tahu tentang dirimu, walaupun tidak seluruhnya. Tapi paling tidak, aku tahu mana yang kau suka dan mana yang tidak kau suka.

***

Sampai pada akhirnya aku juga tahu kalau ternyata kau sudah punya seorang kekasih. Kau terlihat sangat bahagia dengannya. Kau sudah menjalin hubungan cukup lama. Jauh lebih lama sebelum aku pertama kali melihatmu. Sungguh, aku tak ingin secuil pun merusak kebahagiaanmu.

Kau tahu? Saat mengetahui itu, di kepalaku seperti terdapat sebuah tabrakan pesawat paling dahsyat. Menyisakan puing-puing lamunan yang tak berkesudahan. Pikiranku seketika membeku. Tak ada satu kata pun yang mampu terucap dari bibirku yang layu. Hanya kesunyian yang tersisa. Ya, hanya kesunyian.

Aku mulai gila.

***

Nisa,  aku tahu itu adalah namamu. Dan entah kenapa namamu yang sederhana selalu menjadi begitu istimewa bagiku. Annisa Putri. Aku selalu suka namamu sejak pertama kali mengetahuinya.

Konon setiap laki-laki punya minimal satu rahasia dalam hidupnya. Aku punya beberapa! Dan mencintaimu merupakan rahasia terbesar dalam hidupku. Sebab pada awalnya aku memang merahasiakan semua ini. Tak ada satu orang pun yang tahu.

Tapi sekarang, rasanya tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. Aku tidak ingin menyembunyikan lebih banyak rahasia lagi darimu. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku.

Nisa, selama ini akulah pemuja rahasiamu. Akulah orang yang selalu menyaksikan langkah kakimu yang malu-malu. Aku menyukaimu sejak lama, tapi tak pernah berani mengungkapkannya. Entah kenapa di hadapan cinta aku mendadak pengecut dan cenderung menjadi penakut.

Nisa, mungkin beberapa cinta memang ditakdirkan tidak berujung. Tidak menemukan muaranya. Biarlah, aku tak ingin menagih apa-apa dari cinta. Aku cukup bahagia mencintaimu dengan cara seperti ini. Lebih baik begini - ya, begini lebih baik.

Tapi Nisa, aku selalu berharap senja mengabarkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Aku berharap Tuhan mengabulkan doa-doaku tentangmu.

Nisa, berbahagialah. Dan jika hidup kurang menyenangkan, bersenang-senanglah. Sebab kebahagiaanmu adalah salah satu doaku yang dikabulkan Tuhan.

Nisa, aku masih menunggumu.
Dalam keadaan yang tidak sedang baik-baik saja! :)

(Nandang Mohammed : 18 Agustus 2014)