Sekitar 10 bulan yang lalu. Aku pertama kali melihatmu, dan biasa saja.
Seperti kebanyakan wanita, tapi waktu itu kau terlihat sedikit tomboy. Terlihat dari celana jeans yang kau kenakan sedikit lusuh di bagian bawahnya. Sementara itu, sirkulasi udara yang kurang baik memaksa keringat merembes kaos oblong bagian punggungmu. Kau terlihat gagah bersandang jam tangan analog berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirimu. Dan waktu itu senyummu masih biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada perasaan asing sama sekali. Semuanya berjalan seperti biasanya, dan apa adanya.
Waktu itu aku masih baik-baik saja!
***
Tuhan tidak membekali kita kemampuan untuk menolak hukum waktu. Semuanya terus berjalan maju!
Hingga akhirnya kita bertemu!
Sore itu, entah bagaimana caranya kau terlihat begitu anggun. Celana katun hitam dan kaos polo biru tua yang kau kenakan begitu pas melekat tubuhmu. Matamu putih bersih dengan retina hitam pekat di tengah-tengahnya, mata yang puitis. Alismu tebal dan simetris. Wajahmu bersih dengan tai lalat kecil di bawah kelopak mata kananmu, nyaris tak terlihat. Sementara itu, matahari pukul empat telah menyamarkan warna rambutmu menjadi kuning keemasan : waktu itu kau menguncungnya.
Aku menatapmu setengah melamun. Kau juga balik menatapku. Kemudian mata kita bertemu, nafasku seolah tertahan. Sedetik berselang masing-masing diantara kita saling memalingkan tatapannya. Aku pura-pura memainkan telpon genggamku, kau seolah-olah sedang melihat seseorang dikejauhan.
Entah kenapa sore itu senja begitu sayang untuk dilewatkan. Cahaya jingga tak henti-hentinya menyelinap masuk melewati lorong-lorong perasaanku.
Mungkinkah aku jatuh cinta padamu?
***
Barangkali cinta memang tak memiliki sopan santun. Cinta selalu datang tanpa permisi. Tanpa basa-basi.
Sejak saat itu, aku jadi punya kebiasaan baru. Aku sering memperhatikanmu dari kejauhan. Menyaksikan semua tingkah laku dan kebiasaanmu.
Kau sering berdiri di depan pintu sembari menyembunyikan kedua telapak tanganmu di belakang pinggul, mirip anggota pramuka dalam keadaan istirahat di tempat, tentunya dengan situasi yang jauh lebih rileks. Terkadang kau juga menyandarkan tubuh bagian belakangmu ke tembok. Yang paling aku suka, kau tak pernah segan untuk melontarkan senyum pada siapa saja yang mengajakmu berbicara. Kau murah senyum. Aah, aku suka senyumanmu. Aku suka barisan gigi-gigimu yang rapih. Tapi tunggu dulu, ternyata kau masih punya satu tai lalat lagi di bawah lengkung bibir sebelah kanan. Itu terlihat manis.
Saat jam kerja, kau selalu menguncung rambutmu dengan sangat rapih. Aku jadi bisa menyaksikan rambut-rambut halus di lehermu. Sementara sepulang kerja, kau lebih suka menggerai rambutmu yang ikal bergelombang. Membiarkannya saling bersahutan tertiup angin.
Sejak SMP, aku memang selalu membayangkan pada suatu saat nanti akan jatuh cinta pada wanita dengan rambut terkuncung.
Ah, rupanya aku memang jatuh cinta padamu!
***
Tanpa kau sadari, aku sering mengakrabi senyummu dari kejauhan. Sembari berharap kau menyadari semuanya, lalu menoleh ke arahku untuk kemudian melontarkan sebuah senyum perkenalan. Aku suka caramu tersenyum.
Di kepalaku selalu bertaburan pertanyaan-pertanyaan tentangmu. Aku selalu berusaha cari tahu apa saja tentang dirimu. Sebab, segala sesuatu tentangmu begitu menarik untuk aku bahas dalam ruang-ruang imajinasiku.
Aku tahu kau lebih suka Ironman dibandingkan Batman. Aku juga tahu kalau kau lebih suka minun teh dibandingkan susu ataupun kopi. Kau lebih suka kangkung dibandingkan bayam. Kau suka memakai jam tangan. Sering ngebut di jalan. Sering kehilangan karet rambut. Dan heeey, ternyata aku 11 hari lebih muda darimu. Kita lahir di bulan yang sama, dan tahun yang sama pula.
Sekarang aku sudah banyak tahu tentang dirimu, walaupun tidak seluruhnya. Tapi paling tidak, aku tahu mana yang kau suka dan mana yang tidak kau suka.
***
Sampai pada akhirnya aku juga tahu kalau ternyata kau sudah punya seorang kekasih. Kau terlihat sangat bahagia dengannya. Kau sudah menjalin hubungan cukup lama. Jauh lebih lama sebelum aku pertama kali melihatmu. Sungguh, aku tak ingin secuil pun merusak kebahagiaanmu.
Kau tahu? Saat mengetahui itu, di kepalaku seperti terdapat sebuah tabrakan pesawat paling dahsyat. Menyisakan puing-puing lamunan yang tak berkesudahan. Pikiranku seketika membeku. Tak ada satu kata pun yang mampu terucap dari bibirku yang layu. Hanya kesunyian yang tersisa. Ya, hanya kesunyian.
Aku mulai gila.
***
Nisa, aku tahu itu adalah namamu. Dan entah kenapa namamu yang sederhana selalu menjadi begitu istimewa bagiku. Annisa Putri. Aku selalu suka namamu sejak pertama kali mengetahuinya.
Konon setiap laki-laki punya minimal satu rahasia dalam hidupnya. Aku punya beberapa! Dan mencintaimu merupakan rahasia terbesar dalam hidupku. Sebab pada awalnya aku memang merahasiakan semua ini. Tak ada satu orang pun yang tahu.
Tapi sekarang, rasanya tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. Aku tidak ingin menyembunyikan lebih banyak rahasia lagi darimu. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku.
Nisa, selama ini akulah pemuja rahasiamu. Akulah orang yang selalu menyaksikan langkah kakimu yang malu-malu. Aku menyukaimu sejak lama, tapi tak pernah berani mengungkapkannya. Entah kenapa di hadapan cinta aku mendadak pengecut dan cenderung menjadi penakut.
Nisa, mungkin beberapa cinta memang ditakdirkan tidak berujung. Tidak menemukan muaranya. Biarlah, aku tak ingin menagih apa-apa dari cinta. Aku cukup bahagia mencintaimu dengan cara seperti ini. Lebih baik begini - ya, begini lebih baik.
Tapi Nisa, aku selalu berharap senja mengabarkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Aku berharap Tuhan mengabulkan doa-doaku tentangmu.
Nisa, berbahagialah. Dan jika hidup kurang menyenangkan, bersenang-senanglah. Sebab kebahagiaanmu adalah salah satu doaku yang dikabulkan Tuhan.
Nisa, aku masih menunggumu.
Dalam keadaan yang tidak sedang baik-baik saja! :)
(Nandang Mohammed : 18 Agustus 2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar