Kamis, 28 Agustus 2014
Membuka Rahasia
Tentang seluruh rahasiaku padamu.
Aku rasa kau memang harus tahu!
Sebab, bukankah cinta akan terlalu tidak adil ketika tak kedunya sama tahu? Tapi, akan lebih pengecut lagi jika cinta hanya dikubur dalam angan-angan kegelisahan.
Hingga saatnya kita berdialog lewat pesan singkat.
"Hai, aku Nandang." Kataku.
"Hai, aku Nisa." Katamu.
Malam itu angin berhembus secara perlahan. Merambati pori-pori kulit, merangsek masuk menusuk tulang rusuk kita berdua.
Aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang aku punya. Menyelaraskan keping demi keping, untuk kemudian aku susun secara perlahan. Ketika sudah dirasa cukup, aku mulai bersiap untuk memulai semuanya.
"Beberapa hari yang lalu kau baru saja berulang tahun ya?" Aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadamu. Mencoba basa basi.
"Iya, kenapa bisa tahu?" katamu.
Barangkali kau bertanya-tanya: Bagaimana aku bisa mengetahui tanggal lahirmu, padahal kita baru saja kenal.
Ah, kau tak pernah tahu. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, mencari tahu segala sesuatu tentangmu. Aku memang sudah terlanjur tahu banyak tentang dirimu. sejak berbulan-bulan yang lalu.
Aku tak menjawab pertanyaanmu tadi.
"Selamat ulang yahun ya. Aku punya sesuatu untuk kamu." Barangkali ini adalah sesuatu yang terlambat untuk diucapkan. Tapi, aku rasa tidak ada yang salah dengan semua ini.
"Makasih ya. Ohya? Apa itu, apa itu?" Kau seolah penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Ini adalah sebuah hadiah ulang tahun untukmu. Semoga kamu mau menerimanya dengan baik, membukanya, kemudian membacanya. Tak usah terlalu terburu-buru, sebab aku pun menuliskannya secara perlahan." Aku mencoba menjelaskan.
Tak lama berselang, aku mengirimmu sebuah link yang di dalamnya berisi sebuah tulisan yang mewakilkan seluruh rekonstruksi perasaanku padamu. Sebuah tulisan sederhana berjudul Cinta Di Bawah Senja yang aku posting pada blog pribadiku beberapa hari yang lalu. Tepat di hari ulan tahunmu.
"Tulisan itu untukku? Terima kasih banyak ya. Aku suka sekali hadiahnya. Aku tidak pernah membayangkan akan ada seorang pria yang mencintaiku dengan tulus sepertimu." Kau terkejut.
"Nisa, aku mencintaimu, jauh dari kedalaman hatiku. Aku sangat menyayangimu." Aku berusaha mengungkapkan.
Aku sengaja tidak memberimu sebuah pertanyaan "Maukah kamu jadi kekasihku?". Sebab, semuanya sudah jelas. Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, kan? Aku sangat mengerti perasaanmu.
Angin malam terasa semakin menusuk pori-poriku. Ada getar di leherku. Sementara sepi terus menyeruak pikiranku. Detak jam dinding terdengar begitu meneror. Sebuah kantong plastik hitam tertiup angin di halaman depan rumah, seolah mengabarkan pada rembulan bahwa ada seorang pemuda yang sedang bersedih. Sementara itu, gelap malam semakin menenggelamkan kita berdua.
"Nisa, izinkan aku tetap mencintaimu." Kataku sekali lagi.
Barangkali kau tersenyum haru.
"Terima kasih banyak." Katamu.
Sejak saat itu, aku merasa lega. Sebab, sudah tidak ada lagi rahasia-rahasia di antara kita berdua. Aku sudah mengungkapkan semua peraasaanku - rahasiaku padamu.
Sudahlah, barangkali aku akan kembali menjadi seorang pemuda yang mencintai senja.
(Nandang Mohammed : 28 Agustus 2014)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar