Rabu, 29 Agustus 2012
DIAM
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini. Mungkin inilah saat dimana aku mengalami titik jenuh di dalam suatu kehidupan. Titik jenuh yang akhirnya menular ke seluruh sel saraf neuron-ku. Oleh karena itu, hal pertama yang akan aku katakan saat ini adalah 'Selamat Datang Kesepianku'. Kau telah memborbardirku dari berbagai arah mata angin, hingga akhirnya aku harus bertekuk lutut di hadapanmu 'Wahai Kesepianku'.
Minggu pagi yang sunyi, sabtu malam yang sepi, senin siang yang terlalu angkuh di terjang terik matahari. Sementara itu ranting-ranting pohon kersen mulai berjatuhan, daun-daun mulai berguguran. Aku tetap saja bergaul dengan kesepianku. Aku tetap saja tegar sekuat batu karang yang mencintai laut lepas. Lalu, kawanan anak muda tetap asyik menyambut kemeriahan malam kelam. Aku tetap saja diam bagai kitab usang.
Menjelma bagai Charlie Caplin. Diselimuti problema dan rasa dahaga. Berbalut tawa yang tak sempat terlaksana. Berselendang sutra yang tak bernyawa. Inilah kesepianku, kesepian yang akhirnya telah mengakar dalam kalbu. Tuhan, bunuhlah kesepianku!
***
Ingatkan Kawan Kita Pernah Saling Memimpikan
Berlari-lari Tuk Wujudkan Kenyataan
Lewati Segala Keterasingan
Lalu Jalan Sempit Yang Tak Pernah Bertuan
Ingatkan Kawan Kita Pernah Berpeluh Cacian
Digerayangi Dan Digeliati Kesepian
Walaupun Sejenak lepas Dari Beban
Tuk lewati Ruang Gelap Yang Teramat Dalam
Hidup Ini Hanya Kepingan
Yang Terasing Di Lautan
Memaksa Kita
Memendam Kepedihan
Tapi Kita Juga Pernah Duduk Bermahkota
Kucup-kucup Mimpi Yang Berubah Jadi Nyata
Dicumbui Harumnya Putik-putik Bunga
Putik Impian Yang Membawa Kita Lupa
***
Lirik lagu Pas Band - Kesepian Kita
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar