Kamis, 29 Maret 2012

4/4 = 1


"Keluarkan kertas 2 lembar! Hari ini ulangan." Kata Pak Mashuri dengan nada santai. Suasana kelas seketika mendadak bergemuruh bagaikan langkah-langkah kawanan pasukan perang. Tanpa rasa ragu, Pak Mashuri kemudian bergegas membuka spidol dan menjilatkannya ke arah papan tulis.

"Kerjakan!" Katanya pendek.

Kami tak punya pilihan lain, mengingat Pak Mashuri adalah salah satu guru killer yang ada di sekolah kami. Dengan wajah penuh kecemasan, kami lantas mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tas.

"Tidak usah tengok kanan-kiri. Kerjakan semampu kalian!" imbuh Pak Mashuri dengan nada tegas setengah menyindir.

Suasana kelas mendadak suram dan membosankan. Soal yang diberikan tidaklah banyak, hanya satu, tapi jawabannya buseeet banyak amat. Aku mengerjakan soal dengan sangat tenang, karena sebelum ulangan dimulai aku sempat membaca beberapa bagian terpentingnya di buku catatanku.

Tak perlu banyak waktu untuk menyelesaikannya! Jawaban yang sangat singkat, padat, jelas. Aku tidak peduli dengan jawaban yang sesungguhnya, aku merangkumnya dengan sedemikian rupa agar menjadi suatu jawaban yang sangat simple, karena sesungguhnya aku adalah seorang pemuda yang suka dengan segala sesuatu yang simple. Aku menghabiskan sisa waktu ulangan dengan melamun, karena aku merasa sudah ada di atas angan dan aku sangat yakin jawabanku mampu merebut hati Pak Mashuri.

"Kamu sudah selesai?" tanya Pak Mashuri kepadaku. Seketika aku merasa terkejut, suara itu menyeruak menghiasi lamunanku yang kacau.

"Sudah pak!" kataku dengan nada tegas.

"Sini bapak periksa." timpal Pak Mashuri

Kemudian aku bergegas memberikan lembar jawabanku kepada Pak Mashuri. Dengan spontan semua mata seolah tertuju padaku.

Tiba-tiba mataku terbelalak ketika melihat sebuah angka yang tertera pada lembar kerjaku. "4/4 = 1" sungguh, aku tak tahu apa maksud dari semua ini. Apakah ini adalah nilaiku?

Pak Mashuri menatapku dengan mata yang nyalang diliputi amarah dan kekecewaan. Aku tidak berani menatap balik matanya. Mendadak, kepalaku jadi berat. Aku merasa seperti ada beban ratusan kilo yang menghantam dadaku. Aku merasa seperti terjatuh dari lantai 93. Aku merasakan sesak yang begitu mendalam. Apa alasan Pak Mashuri memberiku nilai "4/4 = 1"? Apa maksudnya? Apakah karena jawabanku yang hanya berjumlah 4 baris? Itu adalah beberapa pertanyaan yang ada di benakku saat ini.

Semua yang ada di dalam ruangan tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa nyengir, kemudian tertunduk malu meratapi diriku yang arrogant. Sekarang aku tahu, kesombongan hanya akan membuatku menjadi pemuda yang tolol. Sungguh, aku sangat menyesal! Tapi aku sadar, semua ini adalah imbalan untuk spekulasiku yang teramat dekil. Aku tidak ingin menjadi seperti seekor Kelinci yang sangat meremehkan sang Kura-kura. Aku tidak ingin menjadi seperti Buaya yang selalu dikadali oleh sang Kancil. Aku tidak ingin menjadi seperti Tom, si kucing pemalas yang tak pernah berhasil menghabisi Jerry si tikus lincah.

Ah, kenapa penyesalan selalu datang belakangan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar