Kamis, 29 Maret 2012

JALAN HIDUP


Ketika hidup menjadi pilihan bagi seseorang, maka sebisa mungkin orang tersebut bertindak bijak pada pilihannya itu sendiri. Tapi ... aku fikir ketika seseorang kehilangan orang yang sangat ia sayangi mungkin itu bukanlah sebuah pilihan melainkan takdir

Mungkin kisah hidupku ini lebih berpihak pada takdirku bukan pada pilihan hidup. Takdir ketika aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku harus kehilangan ayahku tercinta pada saat usiaku baru 13 tahun, kenyataan yang harus ku terima ketika ibuku menikah lagi pada saat usai kematian ayahku belum genap satu tahun. Kawan tidakkah bisa kalian rasakan hal yang sama sepertiku? Dulu hidupku tak seperti ini, aku merasa bahagia ketika semua anggota keluargaku masih lengkap, ketika aku masih bisa tertawa bersenda gurau bersama ayah dan ibuku, ketika aku masih bisa menceritakan kejadian lucu yang terjadi pada saat disekolah.

Kawan apa yang kau rasa dan kau fikir waktu kau menerima sebuah berita memilukan yang harus kau terima? Bagaimana rasanya ketika pagi hari kau masih bisa melihat senyum manis penuh kasih sayang dari ayahmu namun ketika siang hari kau tak pernah melihat senyum penuh kebanggan itu lagi? Meyakitkan sungguh bila kau pernah merasakannya, belum sempat aku beri hormat pada ayah, belum sempat aku mencium tangan ayah, belum sempat juga aku mengecup kening ayah untuk yang terakhir kali, namun ayah sudah terlanjur tertidur lelap dalam dekapan sang ilahi. yaRabb kenapa engkau harus memisahkan duniaku dengan ayah? Padahal aku masih sangat membutuhkannya. Aku butuh kasih sayangnya, aku butuh nasihatnya untukku dengar. Ayah, aku rindu ayah .. 

Bisakah tuhan kembalikan ayahku? Bisakah aku bertemu ayahku kembali? Teman bisakah kau bayangkan bagaimana rasanya ketika teman-temanmu menceritakan tentang ayahnya dihadapanku? Aku hanya bisa tersenyum ketika semua itu terjadi.
           
Aku kira itu adalah hal pahit terakhir yang aku rasakan seumur hidupku, tapi Tuhan punya rencana lain pada hidupku, selang setelah kepergian ayah, ibu mengajak aku dan kakakku berbicara. Awalnya aku tak mengira bahwa hal ini akan terjadi, aku kira kehilangan ayah sudah sangat cukup membuatku terlalu lama terpuruk dalam kesedihan namun semua belum usai, ibu meminta ijin kepada aku dan kakak untuk menikah lagi. Bu.. ada apa denganmu? Tidak sayangkah kau kepada ayah? Tidak sayangkah kau kepada aku dan kakak? Aku disini masih berduka bu, begitu juga kakak, tidakkah ibu merasakan demikian? Sia-sia kawan, apapun yang aku katakan tak bisa merubah keputusan ibu, katanya ibu menikah untuk ibadah, membenahi diri apakah dulu ketika bersama ayah ibu masih kurang berbakti kepada suami. Sebenarnya dulu aku bisa melarang ibu untuk menikah lagi, namun aku tak boleh egois, ibuku masih muda mungkin beliau masih sangat butuh sosok pendamping hidup.
      
Aku coba jalani hidup seperti ini, hidup dengan ayah tiri? Tentu saja tidak kawan, ya hanya ibulah yang tinggal bersama ayah tiriku (sebut saja abi, ya karna itulah panggilan ibu kepada orang yang kini menjadi suaminya). Kini aku dan kakak tinggal bersama nenekku, entahlah apa yang akan terjadi pada hidupku kedepan jika nenek juga pergi meninggalkan kami.
         
Hari-hari kulalui tanpa kedua orang tua berada disampingku, memang ibu selalu pulang kerumah setiap seminggu sekali, kalau tidak 2 kali seminggu jika ia tidak sibuk. Lagi, disekolah aku hanya tersenyum ketika teman-teman bercerita tentang keluarga mereka terutama tentang ayah dan ibu mereka, temanku ada yang menghujat ayah dan ibu mereka karena terlalu banyak larangan yang mereka terima dirumah, hai teman andaikan kau rasa apa yang aku rasa jika nanti orang tuamu pergi.

Jangan sia-siakan kedua orang tuamu ketika mereka masih ada teman!

Ini adalah racauan teman baikku. Namanya Mar'atus Sholichah
Hidup memang terkadang sulit untuk dijabarkan, apa yang harus kita lakukan ketika hidup hanya memberi kita dua pilihan? Sudahlah, sesungguhnya tidak ada nestapa yang tidak berkesudahan!

1 komentar:

  1. hey, seketika nangis lg wkt baca postingan ini :') mksh bnyk yaa :)

    BalasHapus