Ketika
hidup menjadi pilihan bagi seseorang, maka sebisa mungkin orang tersebut
bertindak bijak pada pilihannya itu sendiri. Tapi ... aku fikir ketika
seseorang kehilangan orang yang sangat ia sayangi mungkin itu bukanlah sebuah
pilihan melainkan takdir.
Mungkin
kisah hidupku ini lebih berpihak pada takdirku bukan pada pilihan hidup. Takdir
ketika aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku harus kehilangan ayahku
tercinta pada saat usiaku baru 13 tahun, kenyataan yang harus ku terima ketika
ibuku menikah lagi pada saat usai kematian ayahku belum genap satu tahun. Kawan tidakkah bisa kalian rasakan hal yang sama sepertiku? Dulu hidupku tak
seperti ini, aku merasa bahagia ketika semua anggota keluargaku masih lengkap,
ketika aku masih bisa tertawa bersenda gurau bersama ayah dan ibuku, ketika aku
masih bisa menceritakan kejadian lucu yang terjadi pada saat disekolah.
Kawan
apa yang kau rasa dan kau fikir waktu kau menerima sebuah berita memilukan yang
harus kau terima? Bagaimana rasanya ketika pagi hari kau masih bisa melihat
senyum manis penuh kasih sayang dari ayahmu namun ketika siang hari kau tak
pernah melihat senyum penuh kebanggan itu lagi? Meyakitkan sungguh bila kau
pernah merasakannya, belum sempat aku beri hormat pada ayah, belum sempat aku
mencium tangan ayah, belum sempat juga aku mengecup kening ayah untuk yang
terakhir kali, namun ayah sudah terlanjur tertidur lelap dalam dekapan sang ilahi. yaRabb kenapa engkau harus
memisahkan duniaku dengan ayah? Padahal aku masih sangat membutuhkannya. Aku
butuh kasih sayangnya, aku butuh nasihatnya untukku dengar. Ayah, aku rindu ayah ..
Bisakah
tuhan kembalikan ayahku? Bisakah aku bertemu ayahku kembali? Teman bisakah
kau bayangkan bagaimana rasanya ketika teman-temanmu menceritakan tentang
ayahnya dihadapanku? Aku hanya bisa tersenyum ketika semua itu terjadi.
Aku kira itu adalah hal pahit
terakhir yang aku rasakan seumur hidupku, tapi Tuhan punya rencana lain pada hidupku, selang setelah kepergian
ayah, ibu mengajak aku dan kakakku berbicara. Awalnya aku tak mengira bahwa hal
ini akan terjadi, aku kira kehilangan ayah sudah sangat cukup membuatku terlalu
lama terpuruk dalam kesedihan namun semua belum usai, ibu meminta ijin kepada
aku dan kakak untuk menikah lagi. Bu..
ada apa denganmu? Tidak sayangkah kau kepada ayah? Tidak sayangkah kau kepada
aku dan kakak? Aku disini masih
berduka bu, begitu juga kakak, tidakkah ibu merasakan demikian? Sia-sia
kawan, apapun yang aku katakan tak bisa merubah keputusan ibu, katanya ibu
menikah untuk ibadah, membenahi diri apakah dulu ketika bersama ayah ibu masih
kurang berbakti kepada suami. Sebenarnya dulu aku bisa melarang ibu untuk
menikah lagi, namun aku tak boleh egois, ibuku masih muda mungkin beliau masih
sangat butuh sosok pendamping hidup.
Aku coba jalani hidup seperti ini,
hidup dengan ayah tiri? Tentu saja tidak kawan, ya hanya ibulah yang tinggal
bersama ayah tiriku (sebut saja abi, ya karna itulah panggilan ibu kepada orang
yang kini menjadi suaminya). Kini aku dan kakak tinggal bersama nenekku,
entahlah apa yang akan terjadi pada hidupku kedepan jika nenek juga pergi
meninggalkan kami.
Hari-hari kulalui tanpa kedua orang
tua berada disampingku, memang ibu selalu pulang kerumah setiap seminggu sekali,
kalau tidak 2 kali seminggu jika ia tidak sibuk. Lagi, disekolah aku hanya
tersenyum ketika teman-teman bercerita tentang keluarga mereka terutama tentang
ayah dan ibu mereka, temanku ada yang menghujat ayah dan ibu mereka karena
terlalu banyak larangan yang mereka terima dirumah, hai teman andaikan kau rasa
apa yang aku rasa jika nanti orang tuamu pergi.
Jangan sia-siakan
kedua orang tuamu ketika mereka masih ada teman!
Ini adalah racauan teman baikku. Namanya Mar'atus Sholichah
Hidup memang terkadang sulit untuk dijabarkan, apa yang harus kita lakukan ketika hidup hanya memberi kita dua pilihan? Sudahlah, sesungguhnya tidak ada nestapa yang tidak berkesudahan!
hey, seketika nangis lg wkt baca postingan ini :') mksh bnyk yaa :)
BalasHapus